Tirani (dan) Tafsir

Damanhuri*
http://www.lampungpost.com/

“Jika Islam menguasai semua tradisi masa lalu dan menundukkannya dengan mekanisme khas baik lewat penolakan atau penerimaan, melalui penegasian maupun interpretasi-ulang,” demikian tulis Nasr Hamid Abu Zayd dalam buku Al-Nash, al-Sulthah, al-Haqiqah, “kaum muslim pun mampu menguasai tradisi umat-umat lain lewat cara yang efektif dan mengubahnya menjadi salah satu bagian dari pintalan nalar Islam.” Continue reading “Tirani (dan) Tafsir”

Narasi Haji dalam Prosa Indonesia

Damanhuri
ttp://www.lampungpost.com/

Ke angkasa hitam, kulihat, jemaah itu tengadah. Langit gelap langit pekat…Ada langit lain, angkasa lain, di dalam dada. “Putih, benderang, melesat-lesat lempeng cahaya.” Lempeng! Adakah-adakah itu lempengan doa? Tuhan, tak ada hal yang ingin Kau sampaikan kecuali bahwa apa pun doa, dari hati yang bersih, adalah cahaya. Betapa. Tetapi, aku?…

Panggilan ini. Haji tahun lalu. Ingatan akan kampung. Betapa. Apakah sebenarnya makna kata “mampu” atau “sanggup”? Apakah yang telah kuperbuat di tahun lalu?

Kutipan di atas berasal dari paragraf-paragraf awal novel karya Gus tf Sakai, Ular Keempat (Kompas, 2005), Continue reading “Narasi Haji dalam Prosa Indonesia”

Adonis, ‘Modernitas Loakan’, Pembebasan

Damanhuri*
http://www.lampungpost.com/

SEBELUM para kritikus sastra berkali-kali mengelu-elukannya sebagai calon penerima Nobel Sastra, Adonis jelas bukan nama yang terlalu akrab di telinga kita. -lit

Sosok bernama asli Ali Ahmad Said Asbar itu barangkali baru mulai mencuri perhatian kita ketika salah satu karya terbaiknya, al-Tsabit wa al-Mutahawwil: Dirasah fi al-Ibda’ wa al-Itba ‘Inda al-Arab–menyusul penerjemahan beberapa puisinya dan dibukukan menjadi Perubahan-Perubahan Sang Pencinta Continue reading “Adonis, ‘Modernitas Loakan’, Pembebasan”

Sastra Malin Kundang, Sastra Kontekstual, Sastra…

Damanhuri
lampungpost.com

MEREPETISI atau bahkan replika gagasan tampaknya masih menjadi salah satu ciri tabiat buruk yang terus dipelihara sebagian anak bangsa ini. Pengulangan gagasan itu menjadi kian menyedihkan jika pelakunya justru mereka yang selama ini dikenal sebagai orang-orang yang menyibukkan diri dan memungut takdir hidupnya, dalam dunia kreatif-penciptaan. Padahal siapa pun tahu, repetisi adalah cacat dalam proses kreatif. Continue reading “Sastra Malin Kundang, Sastra Kontekstual, Sastra…”