ESTETIKA SKIZOFERNIA: KEMUNGKINAN DAN KETIDAKMUNGKINAN “MUSEUM PENGHANCUR DOKUMEN”

Dedi Sahara
mengebiriwaktu.cf

Dalam buku antologi Museum Penghancur Dokumen —dalam esai penutupnya— Afrizal Malna mengatakan bahwa “puisi dengan bahasa sebagai mediumnya, tetapi bukan berarti bahasa sebagai identitas puisi”. Dengan kata lain bahwa puisi, walaupun menggunakan bahasa, tetapi bukanlah produk bahasa. Lebih lanjut lagi Afrizal mengatakan bahwa “puisi sebagai karya seni dari pada sebagai karya sastra”. Continue reading “ESTETIKA SKIZOFERNIA: KEMUNGKINAN DAN KETIDAKMUNGKINAN “MUSEUM PENGHANCUR DOKUMEN””