Menelusuri Perjalanan Sastra Di Malang *

Denny Mizhar **

Sebelum saya mulai menulis tentang perjalanan sastra Malang, saya akan bercerita bagaimana saya sampai masuk pada pergumulan sastra di Malang. Tetapi sebenarnya saya, belum berani betul bicara soal perjalanan sastra di Malang. Disebabkan kawan Kholid Amrullah dari komunitas Lembah Ibarat meminta saya untuk menjadi pembicara mendampingi Pak Emil Sanosa untuk berbicara sejarah sastra di Malang. Continue reading “Menelusuri Perjalanan Sastra Di Malang *”

Kabar di Hari Minggu

Denny Mizhar

Hari minggu kali ini, menjadi hari yang tidak biasa bagi keluarga Arman. Kalau hari minggu biasanya mereka sekeluarga nyantai di rumah sambil nonton tv bersama-sama. Sulastri sebagai istri bekerja sebagai guru SD swasta di desa tempatnya tinggal juga libur. Dengan hari minggu mereka bisa berkumpul. Arman sebagai suami juga menghentikan semua pekerjaanya di sawah yang dipunya, walau cuma sepetak. Minggu yang tidak biasa, karena mereka di kagetkan surat yang datang dari anaknya. Continue reading “Kabar di Hari Minggu”

Armageddon: Relegiusitas Danarto Pada Pertunjukan Teater

Denny Mizhar *

Lampu menyala di panggung dengan setting batu-batu besar dan sebuah taman. Belakang terbentang kain separuh hitam dan separuh putih. Panggung pertunjukan pun dimulai, iringan musik yang digubah oleh Leo Zaini dan naskah drama yang diadaptasi oleh Okto Fajar dari salah satu cerpen karya Danarto “Armageddon” berpadu saling mengisi dan membatu menjadi satu kemasan pertunjukan teater. Di awali dengan adegan pencarian seorang Ibu mencari pada anak gadisnya yang sudah lima malam tidak pulang. Tokoh Ibu yang diperankan oleh Ade Diana Afrianti, sedangkan Gadis diperankan oleh Caulina Dike Virginis Sholiha. Continue reading “Armageddon: Relegiusitas Danarto Pada Pertunjukan Teater”

Pertemuan Terakhir

Denny Mizhar

Aku menjadi heran, sejak kepergianmu meninggalkan kampung halaman kita yang terletak di Lamongan bagian tengah menuju kota Jember, menjadikanmu banyak perubahan. Kamu berbeda dengan yang aku kenal tiga tahun yang lalu. Atau mungkin hanya pandanganku yang tak segaris denganmu, bisa jadi, aku yang tak mengenal sisi lain dari hidupmu. Yang aneh mengenai perubahanmu adalah baju yang kau kenakan. Kau mirip orang-orang Barat Tengah. Kau tahu mana Barat Tengah, coba ambilah peta dan lihatlah kau akan tahu bahwa ada kesalahan selama ini dalam melihat peta di mana timur, tengah dan barat jika kita berada di kampung kita. Continue reading “Pertemuan Terakhir”

Berawal dari Kesunyian

Denny Mizhar

Aku membaca gerak yang berawal dari kelahiran adam dan hawa, mereka berada dalam ruang kesunyian—dekat dengan Tuhan –surga. Karena lena maka kemurkaan didapatnya. Menanggung akibatnya maka turunlah pada ruang kesunyian yang ke dua –dunia– mengenal benda-benda dengan petunjukNya. Entah itu yang disebut zaman purba atau tidak saya menganggapnya begitu: zaman purba. Prilaku anak-anak adam dalam perihal cinta yang diperebutkan, akhirnya mati satu di antaranya. Adam-hawa terus membuat keturunan-keturunan hingga saya. Entah keturunan yang ke berapa saya tak pernah menghitungnya. Continue reading “Berawal dari Kesunyian”

Bahasa »