Surat Terakhir di Almari

Denny Mizhar

Semalaman Ia tak pulang ke rumah. Tidak biasanya menginap di luar. Biasanya pamit dan memberi tahu jika ada kepentingan di luar rumah? bila tak pulang. Anaknya juga bertanya ke mana Bapaknya tak kelihatan seharian. Sebab ketika Ia tak pulang, tidak lupa menelpon anaknya, sekedar tanya kabar dan menanyakan sudah makan atau belum. Aku semakin khawatir saja, apalagi tadi sore ada telphon misterius, menanyakan suamiku di mana, aku tanya siapa namanya tidak menjawab. Semakin ngotot saja, padahal sudah aku bilang Ia tidak di rumah. Di akhir telphonnya dia mengunakan ancaman. Continue reading “Surat Terakhir di Almari”

Sri

Denny Mizhar

Sri namaku. Aku lahir ketika musim kemarau panjang. Keluargaku di himpit kesusahan. Sawah yang ditanami padi tak juga kunjung menuai panen. Kekeringan melanda desaku. Hingga semua warga desaku harus berduyun-duyun menimba air di sumur syawal ketika pagi tiba. Sumur yang selalu ada airnya walaupun musim kemarau melanda. Hanya itu satu-satunya sumur yang tak pernah surut. Konon ceritanya yang menggali lubangnya bernama Syawal. Hingga sumur itu diberi nama sumur Syawal. Atau mungkin dalam dugaku lubang sumur itu di gali waktu bulan syawal. Continue reading “Sri”

Sajak-Sajak Denny Mizhar

Sajak untuk Aku

Hai, aku. Lihatlah kunang-kunang yang kau simpan tak berkerlip lagi. Lepaskanlah pada udara bebas agar ia dapat melesat pada ketinggian langit menggapai segala asa yang ia endapkan lama.

Hai, aku. Tak usah lagi kau tulis jejak lukamu yang membuatnya tak betah tinggal denganmu walau hanya mencium bau anyir darahmu. Rebahkanlah ia jauh dari tubuhmu yang penuh darah dari duka masa lalumu hingga kini masih belum mengering. Continue reading “Sajak-Sajak Denny Mizhar”

Menunggu Sambil Membaca Sajak

Denny Mizhar

Keheningan menghampiriku di perjamuan ruang tunggu. Aku terus berdiri dengan harap, kau datang membawa sepucuk senyum yang hilang dariku. Sebab lelah memandang masa lalu, tak juga mau pergi. Kenangan-kenangan pahit menyelinap dalam hari-hariku.

Dalam ruang tunggumu aku ibarat petani yang menanti musim panen tiba. Menunggu sambil memupuk bibit-bibit dan tunas-tunas muda yang ditanam di sawah-sawah, ladang-ladang atau perkebunan. Berharap esok ketika panen, hasil dapat melimpah ruah. Continue reading “Menunggu Sambil Membaca Sajak”

Bahasa ยป