Divide et Impera

Dian Hartati*

Guncangan menggetarkan bumi yang kupijak. Dengan langkah bergegas aku kembali menatap jalanan yang gelap. Langit malam tak memberiku cahaya penerang, yang ada hanya gemuruh langkah-langkah bergegas menuju Selatan. Entah sudah berapa lama aku melangkah mengikuti kelok jalan dalam kelam malam. Gemerisik pepohonan mengantarkan kidung lengang tentang pertiwi yang disakiti. Continue reading “Divide et Impera”

Perempuan Kupu-kupu

Dian Hartati**

Aku adalah perempuan kupu-kupu. Setiap langkah yang tercipta selalu menghadirkan kepak sayap. Ruang-ruang di rumahku adalah sebuah dimensi yang menceritakan kisah-kisah menawan dan selalu menghadirkan gelak tawa. Senda gurau perempuan lain, ibuku yang kupanggil dengan sebutan Mama.. Continue reading “Perempuan Kupu-kupu”

“Ibu, Aku Belum Siap Engkau Bereinkarnasi Lagi!”

Dian Hartati*

Akhirnya mobil itu meninggalkan lapangan parkir yang basah. Hujan sedari pagi membasahi jalan-jalan kota yang dipenuhi guguran daun. Di dalam mobil terlihat seorang perempuan menangis dengan hening. Tak ada yang ditatapnya selain jalanan yang sepi, tangannya sibuk di belakang kemudi. Sesekali dia mengusap air mata, tak ada yang abadi pikirnya. Tak ada yang abadi selain perubahan. Continue reading ““Ibu, Aku Belum Siap Engkau Bereinkarnasi Lagi!””

Lembah Kunang-kunang

Dian Hartati*

1. Nyanyian Alam di Suatu Sore
Sebuah perjalanan. Keberangkatan yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Kepergian selalu dimulai petang hari. Tepat ketika matahari memutuskan diri untuk pulang setelah seharian menyinari bumi purba. Tak banyak perbekalan, tas punggung berwarna senja hanya berisikan sebotol air dan satu buah apel segar. Tak ada lagi yang dibawa selain satu senter kecil, korek api, sebuah peta lusuh, dan sebuah syal berwarna putih. Continue reading “Lembah Kunang-kunang”