Lembah Kunang-kunang

Dian Hartati*

1. Nyanyian Alam di Suatu Sore
Sebuah perjalanan. Keberangkatan yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Kepergian selalu dimulai petang hari. Tepat ketika matahari memutuskan diri untuk pulang setelah seharian menyinari bumi purba. Tak banyak perbekalan, tas punggung berwarna senja hanya berisikan sebotol air dan satu buah apel segar. Tak ada lagi yang dibawa selain satu senter kecil, korek api, sebuah peta lusuh, dan sebuah syal berwarna putih.

Seperti apakah perjalanan kali ini, tak ingin menduga-duga memikirkan suatu hal yang berada di luar jangkauan. Langkah pasti menjejakkan kaki di tanah-tanah tak bernama. Sepatu hitam setia menemani, langkah yang tak pernah mengenal lelah. Hitam yang mulai memudar. Terlihat beberapa jahitan koyak, mulai tak sempurna.

Setiap kelokan jalan hadirkan lanskap yang selalu berbeda. Mata bersitatap dengan keindahan mahaluas. Langit biru menaungi gerak tubuh, gemawan yang beriringan menemani sunyi. Sekawanan kelelawar bergerak menuju langit barat. Memasuki rimbun pohonan sambil mengeluarkan suara yang memekik.

Dengar gemuruh angin di seberang sungai kecil itu. Desirnya menerbitkan gigil di tubuh kurus. Menerbangkan bunga angin yang mulai bermekaran. Membuat sekeliling jadi serba putih. Haatchiihh…! Sesuatu yang tidak disukai mengawali perjalanan ini. Hidung jadi gatal, serbuk-serbuk bunga angin terhirup juga. Haatchiihh…! Mempercepat langkah meninggalkan kelok pertama menuju persimpangan di ujung jalan sana.

Tak ada penunjuk arah dan harus pandai menentukan pilihan kemana langkah akan diteruskan setelah persimpangan pertama. Lurus terus, belok ke kanan atau belok ke kiri. Kabut menghadang jauh di depan sana. Pastinya jarak pandang akan berkurang dan harus selalu berhati-hati dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Jika memilih berbelok ke kanan atau ke kiri hampar tanah yang rengkah menghadang. Perhatikan jalannya yang terjal lalu menurun tajam. Terdapat beberapa jenis tanaman sedang menunggu untuk dipanen. Perkampungan di bawah sana hanya menawarkan sepi. Serupa tak berpenghuni, terasa galib di senja berbayang.

Akhirnya kabut menantang di depan sana. Memasuki sebuah gerbang alam yang dipenuhi pohon-pohon berusia tua. Rembang petang memberikan suasana khas pada perjalanan yang belum diketahui akan berujung di mana. Nyanyian batang-batang bambu terdengar begitu merdu. Simfoni melarutkan setiap pejalan untuk singgah mengantarkan kerisik daun-daun.

2. Kerajaan Pohon-pohon Tua
Langkah begitu teratur seirama dengan lebur napas. Hangat udara mulai terasa. Sesuatu di depan sana membangkitkan keingintahuan. Pohonan dengan batang kasar berderet rapi. Usianya terbaca dari lingkar tahun, kambium-kambium kokoh menopang rangka sebelum jadi arang. Semua menjulang mencapai langit yang semakin pupus warnanya.

Daun-daun berbisik menceritakan bakal buah yang hendak ditetaskan. Daging yang tebal, rasa manis di sela-sela masam, gumpalan harapan mencapai kesempurnaan hidup. Memberikan sesuatu pada manusia yang biasanya lupa. Tak berterimakasih dan melupa dengan cara sembarang menebang atau membakar stomata yang sedang mendulang penghidupan, memunculkan titik-titik api dan meranggaskan segala kedamaian rimba.

Terdapat jejak-jejak kecil di beberapa batang pohonan. Di kayu berjenis bosi selalu ditemukan sisa cahaya. Warna kayu yang hitam begitu saja menjadikan batang-batang berkilauan setelah matahari tenggelam. Sebenarnya apa yang menyebabkan batang-batang itu berkilau. Sesuatu yang harus ditelusuri keberadaannya agar rasa penasaran terlunasi.

Hutan tropika selalu menyuguhkan berbagai wangi khas. Akar-akar berjuntaian meruapkan aroma tanah, daun-daun memanjakan mata dengan damainya. Lumut-lumut hijau pekat selembab udara di bawah canopy alam. Terdapat wangi perdu di sekitar sini. Aneh. Entah berapa jauh jarak yang harus ditempuh agar perdu yang bergerumbul dapat didekap dengan mudah. Hidung tak mungkin salah menangkap aroma itu.

Lain jenis lain jejak. Di batang kayu medang terdapat sesuatu yang basah. Cairan kental tidak beraroma, tentunya bukan getah. Siapa yang meninggalkan jejak aneh itu. Sementara angin yang datang tak juga mengeringkan cairan. Pastinya sesuatu itu begitu ringan hingga sulit ditemukan keberadaannya.

Bayang-bayang tubuh telah hilang. Sebenarnya langkah memerlukan senter, tapi berkat kilau di batang pohon jalan begitu mudah dilalui. Pesona semesta mengantarkan mata ke arah depan. Lurus. Tak bersusah-susah karena deret pohonan selalu mengiringi hati untuk berhitung. Satu, dua, tiga, empat, sampai ratusan pohonan. Tinggi mencapai angkasa. Di atas sana penglihatanku terhalang rimbun daun-daun yang bentuknya beragam.

Akhirnya peta dibentangkan. Ada di lintang berapa dan bujur mana hutan ini membawa petualangan yang sendiri. Derajat-derajat dalam peta ditafsirkan, menerka-nerka setiap sudut batas penglihatan. Utara-selatan dan barat-timur yang membingungkan. Kompas diperlukan saat ini. Mungkinkah langkah tersesat? Haruskah mengulang? Adakah peri hutan datang menolong, memberikan jawaban-jawaban untuk melegakan hati.

Angin menawan tubuh dengan gigilnya. Kembali mencermati berjenis-jenis tumbuhan yang tak diketahui struktur anatominya dengan jelas. Kayu giam dengan kokohnya menambah muram rimba. Peta lusuh semakin tak berguna di tengah kepungan daun-daun yang berserak. Seolah penunjuk arah, mata menembus deretan pohon mencoba menembus beribu-ribu anak panah yang siap dihunjamkan ke dada.

3. Mimpi Tahun-tahun Lampau
Ada sesuatu yang tidak pernah salah untuk dikenangkan, masa kecil misalnya. Sebuah kelahiran di tengah malam telah menakdirkan seorang ibu kehilangan nyawa. Menyerahkan segala cita-cita untuk sang anak pada kerabat. Memberikan pengertian melalui air susu yang belum tercecap. Begitulah dia tumbuh di tengah belantara kehidupan. Langit dan bumi adalah orangtua abadi yang selalu mengajarkan kerasnya batu pemahaman.

Hingga akhirnya di tahun kelima, dia dapat merasakan kehadiran seseorang yang lembut. Datang menjumpai setiap malam di mimpi-mimpi yang tak pernah sempurna dan selalu menghadirkan igau. Membelai raut wajah dengan kesahajaan. Bercerita tentang seorang yang berjiwa petualang. Menaklukkan samudera, merambah setiap hutan-hutan perawan, merawikan cerita dari mulut-mulut tak dikenal. Hingga kepulangan adalah sesuatu yang dilupa.

Di malam yang gasal dia bermimpi mengemudikan kendaraan langit. Mengantarkan tubuh mungilnya dari satu bintang ke bintang yang lain. Merasakan hangatnya bulan, seluas cahaya yang datang dari matahari. Membelah arakan gemawan merasakan titik-titik air yang lembut. Laju kendara di batas langit itu akhirnya tak dapat dikendalikan. Kemudian dia ingat tentang kecepatan tahun cahaya yang diceritakan seorang berjiwa petualang. Melesat. Tubuh bergerak di luar lintasan orbit, meninggalkan bumi, venus, merkurius, akhirnya menabrak matahari.

Peluh membasahi kening. Air matanya berurai menangis sejadi-jadinya. Mimpi. Dia rindu ibu. Akhirnya dia tahu apa artinya merindu. Sesuatu yang menyakitkan dan selalu menimbulkan tangis. Tak ada sesiapa di kamar temaram itu. Dia tahu tak ada gunanya menangis di malam yang larut. Kembali memejamkan mata namun urung. Sosok seorang berjiwa petualang datang membentuk siluet di benaknya.

Di tahun kesepuluh dia sudah pandai membaca. Cerita-cerita dalam buku selalu terbawa mimpi. Petualangannya tidak pernah sendiri selalu ada seorang yang berjiwa petualang menemani garis hidupnya. Menjelajahi setiap benua, benua mimpi. Menyelami dalamnya samudera, samudera mimpi. Mendatangi dimensi tak terbatas, dimensi mimpi.

Berbekal peta lusuh yang ditemukannya ketika bangun tidur hari-hari yang dijalani menjadi sangat berbeda. Selalu ada peristiwa-peristiwa menarik selepas pulang sekolah. Selembar daluang yang menggambarkan seluruh permukaan bumi menjadi teman setiap perjalanannya. Setelah itu jika rindu datang dia tak pernah menangis lagi.

4. Tiang-tiang Penyangga Bumi Langit
Satu gigitan apel dapat mengganjal perut yang lapar selama setengah hari. Duabelas jam adalah waktu yang diperlukan untuk mencapai bukit di batas kaki langit. Setiap akhir pekan dia selalu mendatangi bukit itu dengan berjalan kaki. Tak ada yang dilakukan di bukit itu selain menikmati hempas gelombang di bawah sana. Mendengarkan nyanyian purba yang dicipta semesta. Menikmati kepundan rekah yang asapnya mencoba menggapai langit.

Bukit itu menghubungkan musim-musim di beberapa kawasan yang dilalui khatulistiwa. Cuaca yang tak pernah menenangkan kantuknya. Tiba-tiba panas, tiba-tiba banjir, tiba-tiba air sulit ditemukan, tiba-tiba wabah datang, tiba-tiba musim kawin, tiba-tiba gunung meletus, tiba-tiba daratan hilang, tiba-tiba lempeng patah, tiba-tiba geletar bumi merusak sejarah sebuah kota, tiba-tiba semuanya menjadi serba tiba-tiba.

Sebelum pulang satu gigitan apel cukup menjaga kondisi tubuh agar tidak limbung. Berjalan kaki sambil menghitung kampung-kampung yang dilewati. Menepiskan dahaga dengan memanjat sebuah pohon yang menjulang tinggi. Ketika itu dia tidak tahu apa nama tumbuhan yang dapat menghasilkan berliter-liter minyak nabati. Pastinya menjadi panorama di setiap pesisir. Dalam perjalanan yang tidak singkat itu, dia selalu menanamkan mimpi untuk dipanen kemudian hari.

Lelah menyebabkan kantuk cepat datang. Kerabat yang ditinggalkan menjumpai dalam mimpi. Mereka semua tinggal di wilayah lain, tak jauh tempatnya hanya berbatas sungai. Tak pernah kering dan mampu menghidupi dua kawasan di sepanjang kanan dan kiri daerah aliran sungai. Pernah ditemukan sepasang alas kaki berwarna hitam di sungai itu dan digunakan setiap melakukan perjalanan. Begitupun ketika menjumpai kerabat di hari libur sekolah.

5. Lembah Kunang-kunang
Udara bertambah dingin sedang tubuh hanya dibalut sehelai kain. Kilau batang-batang kayu membuat kaki bebas berpijak. Semakin lama deret pohonan berkurang, serakkan daun tidak lagi memenuhi tanah lembab. Jalur setapak mulai melebar. Langit terhampar luas dan menampilkan berbagai konfigurasi bintang-bintang. Ternyata kawanan kelelawar itu memburu bintang barat, sang venus yang begitu benderang petang tadi. Gugus utarid mewakili merkurius saat ini. Mata begitu bebas memandang tak terhalang apapun.

Ternyata pohonan tadi membawa tubuh ke tempat terendah, berbagai jenis dan mengungkung tempat ini. Menjulang memisahkan tanah tinggi dan perkampungan di sisi kanan dan kiri. Gemercak air terdengar samar. Mungkinkah itu sungai yang dimanfaatkan penduduk untuk keperluan sehari-hari. Jalan semakin menurun dan menerbitkan rasa penasaran.

Gawir memantulkan bunyi air yang riuh, mungkin sudah dekat. Batu-batu besar tertata rapi di sepanjang sungai. Bulan di langit menuntun langkah semakin mendekat ke arah sumber air. Ternyata sebuah rongga besar di ujung sana menumpahkan air dengan begitu tenang. Langsung di tampung pipa-pipa besar dan dialirkan ke rumah-rumah penduduk tak jauh dari sini.

Setelah membasuh wajah dan puas meneguk jernihnya air, tubuh menjadi hangat. Dingin yang sedari tadi menemani menguap begitu saja. Beberapa saat setelah itu air menjadi berkilauan. Masih sunyi namun di antara semilir angin yang hangat terdengar lembut sayap-sayap mengepak. Bulan sembunyi di balik awan, tetapi lembah menjadi begitu terang.

Berbalik dan melihat kunang-kunang memenuhi lembah. Terbang melandai dan memencar ke segala penjuru. Baru kali ini mata bersitatap dengan jarak yang begitu dekat. Puluhan bahkan ratusan mungkin ribuan, hingga kerlap cahayanya yang memesona menerpa setiap sudut lembah ini. Hutan di belakang sana bersepakat dengan batang-batang kayu yang semakin cercah. Menyebar, hingga bubungan rumah-rumah penduduk terlihat jelas. Pendar cahayanya sampai juga di hampar kemunting di seberang sana. Tumbuhan perdu yang dimanfaatkan oleh penduduk dan dikenal sebagai ramuan obat sakit perut yang mujarab.

Semua terlampau silau, menyesakkan fokus mata. Terhuyung tinggalkan lembah mencari jalan pulang. Sasar langkah mencapai jalan utama yang hanya ditumbuhi kaliandra. Napas tak lagi berirama tenang. Botol air begitu saja kosong. Peluh berleleran di setiap inci tubuh.

Menanti lengkung pagi agar langkah pasti menuju timur. Lembah bisu, lembah kunang-kunang telah memaku setiap ingatan. Perjalanan yang tak pernah diduga bagi seorang petualang. Satelit bumi itu tak lagi muncul. Sesuatu berjatuhan dari langit begitu lembut namun tajam. Hujan. Baru kali ini tubuh merasakan hujan yang tiba-tiba dan seringkali mengaburkan mimpi.

SudutBumi, 2006
*)Sumber,http://sudutbumi.wordpress.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *