Religius Islam dalam Sastra Sunda

Djasepudin *
Pikiran Rakyat, 02 Juli 2005

MANTAN Rektor IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Rachmat Djatnika berbicara bahwa, sebelum agama Islam datang ke tatar Sunda, orang Sunda telah memiliki budaya, yang menjadi adat-istiadatnya. Gambaran ajaran dan budaya Sunda itu dapat dilihat dari pepatah-petitih, nasihat-nasihat, yang biasa didendangkan oleh anak-anak atau para remaja, yang merupakan hasil gubahan para bujangga Sunda. Baca selengkapnya “Religius Islam dalam Sastra Sunda”

“Lirisme” Sajak Sunda

Djasepudin*
http://www.pikiran-rakyat.com/

DALAM khazanah sastra Sunda, sajak merupakan produk budaya paling bungsu. Bahkan, di awal kelahirannya sajak Sunda sempat menuai pro-kontra. Setelah melewati lebih dari lima dasawarsa kiwari, keberadaan sajak Sunda masih mendapat tempat di hati masyarakat.

Sastrawan Sunda munggaran yang menulis sajak adalah Kis Ws, nama lain dari Kiswa Wiriasasmita (1922-1995). Meski produk budaya anyar, sajak Sunda sejatinya masih berpijak pada akar tradisi karuhun. Tidak hanya bahasa, pengaruh nilai-nilai dangding atau pantun pun masih menjadi ilham para pengarang Sunda dalam menuangkan ekspresinya. Baca selengkapnya ““Lirisme” Sajak Sunda”

Wanita Dalam Khazanah Kesusastraan Sunda

Djasepudin *
pikiran-rakyat.com

Dalam khazanah sastra Sunda terbilang banyak para pengarang wanita. Namun, wanita pengarang bisa dibilang langka. Dominasi pria pengarang dalam sastra Sunda merupakan sebuah kenyataan tak terbantahklan.

Menurut Duduh Durahman, sejak kemunculan buku Wawacan Rusiah nu Kas?p karya Ny. R.H. Hadidjah diterbitkan Toko Buku M.I. Prawiranata tahun 1922 (cetak ulang Fa. Penerbit Galura 1964) hingga zaman setelah perang, kesusastraan Sunda mengalami kekosongan wanita pengarang. Baca selengkapnya “Wanita Dalam Khazanah Kesusastraan Sunda”