Tag Archives: Djoko Pitono

Melestarikan Folklor, Mempromosikan Bahasa Lokal

Djoko Pitono
http://ppsjs.blogspot.com/

ilang jenenge kawula,
sirna datan ana keri,
pan ilang wujudira,
tegese hyang widi,
ilang wujude iku,
anenggih perlambangipun,
lir lintang karainan,
kasorotan ngilang ing rudita.

[Sunan Drajat, dalam Sinom]

Mewaspadai ”The Silent Killer”

Djoko Pitono
http://www.jawapos.co.id/

Health is not valued till sickness comes (Kesehatan tidak dihargai hingga sakit datang).
Pengarang Inggris Thomas Fuller (1608-1661)

Seorang jurnalis sebuah harian nasional di Kalimantan tiba-tiba meninggal dunia pada Juli 2010. Laporan-laporan awal menyebutkan, ada kemungkinan jurnalis itu dibunuh. Namun, kemudian polisi memastikan bahwa jurnalis berinisial S itu meninggal karena hipertensi.

Soekarno, Bahasa, dan Lidahnya

Djoko Pitono
http://www.jawapos.co.id/

Sebuah buku baru terbit belum lama ini, judulnya In Our Time: The Speeches That Shaped The Modern World. Buku karya Hywell Williams itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan Penerbit Esensi pada 2010: In Our Time: Pidato-Pidato yang Membentuk Dunia Modern.

Buku itu menampilkan 40 pidato terkenal dari para pemimpin terkemuka sejak 1945, termasuk diktator, tokoh demokrat, liberal, tokoh konservatif, nasionalis maupun internasional, tentara, pejuang perdamaian, negarawan, dan pengusaha.

Sandera Itu Bernama Gregory

Karya: Panos Ioannides
Diterjemahkan: Djoko Pitono
http://suaramerdeka.com/

TANGAN saya berkeringat saat memegang pistol itu. Lekukan pelatuknya keras menempel di jari saya. Menghadapi saya, Gregory gemetar. Pandangannya jelas mengisyaratkan pada saya, “Jangan!”

Hanya mulutnya tidak bersuara. Bibirnya terkatup rapat-rapat. Seandainya saya, saya sudah akan menjerit, berteriak, dan menyumpah.

Para tentara menyaksikan…

Menikmati Eksotisme Rusia

Djoko Pitono*
http://www.jawapos.co.id/

”DI perberhentian stansia Teatral’naya, lelaki muda itu turun. Di tempat penungguan penumpang, perempuan cantik semampai telah menantinya. Mawar merah pun dihadiahkan sang lelaki kepada sang perempuan. Selanjutnya mereka pun berpelukan dan berciuman; romantis dan seksi.” Begitu, antara lain, ungkap penulis buku ini dalam bab Romantisme Pergaulan.