Tag Archives: Djuli Djatiprambudi

Seni Rupa Belum Merdeka

Djuli Djatiprambudi
http://www.jawapos.co.id/

”APAKAH Anda mengenal perupa Nyoman Masriadi, Putu Sutawijaya, Agus Suwage, Dippo Andy, Rudi Mantofani, dan Ay Tjoe Chrystine?” Pertanyaan itu saya lontarkan di dalam sebuah forum pelatihan guru kesenian. Mereka sontak menjawab tidak tahu. Atas jawaban mereka itu, saya pura-pura kaget walaupun sudah menduga mereka pasti asing dengan nama-nama tersebut.

Monumentalisme Edhi Sunarso

Djuli Djatiprambudi*
http://www.jawapos.com/

SAYA yakin, andai Bung Karno masih hidup, sang proklamator itu pasti akan marah besar. Bayangkan, patung Dirgantara di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, kini ditelan jalan tol yang melintang dan mendominasi ruang kota. Patung yang berbentuk lelaki kekar seakan siap terbang itu tidak lagi tampak nyaman saat dilihat dari segala penjuru. Patung itu seolah-olah sudah kehilangan maknanya. Terjepit oleh modernitas kota yang terus-menerus mengepungnya.

Membaca ISI Jogja

Djuli Djatiprambudi*
http://www.jawapos.com/

KETIKA melihat ”Exposigns”, sebuah pameran besar seni visual Indonesia di Jogja Expo Center pada 25-30 November ini, saya benar-benar terpana. Keterpanaan saya itu terkait dengan salah satu kesimpulan dalam penelitian disertasi saya. Salah satu simpulan tersebut berbunyi, ”Perupa-perupa yang dikonstruksikan dalam praktik komodifikasi memperlihatkan modus spesifik, yaitu perupa-perupa yang berlatar belakang pendidikan seni rupa. Modus ini secara nyata menggejala sejak zaman kolonial hingga pascakolonial.

Positioning Pasar Seni Lukis Indonesia

Djuli Djatiprambudi
http://www.jawapos.com/

Setiap karya seni punya pasar sendiri. Seperti yang terjadi di Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) di kompleks Balai Pemuda Surabaya, 1 – 11 Mei 2009. Ratusan pelukis dari berbagai kota menggelar karyanya di dalam 160 tempat yang disediakan panitia. Di hari kedua sudah disiarkan sekitar 200 karya terjual. Ratusan orang memadati arena pasar untuk menyaksikan ratusan lukisan dengan berbagai macam corak. Dari lukisan beraroma ”Mooi Indie” hingga yang disebut seni lukis ”kontemporer”. Ini artinya, setuju atau tidak, PSLI telah memperlihatkan konfigurasi infrastrukstur seni yang memiliki segmentasi pasar sendiri.