Membaca ISI Jogja

Djuli Djatiprambudi*
http://www.jawapos.com/

KETIKA melihat ”Exposigns”, sebuah pameran besar seni visual Indonesia di Jogja Expo Center pada 25-30 November ini, saya benar-benar terpana. Keterpanaan saya itu terkait dengan salah satu kesimpulan dalam penelitian disertasi saya. Salah satu simpulan tersebut berbunyi, ”Perupa-perupa yang dikonstruksikan dalam praktik komodifikasi memperlihatkan modus spesifik, yaitu perupa-perupa yang berlatar belakang pendidikan seni rupa. Modus ini secara nyata menggejala sejak zaman kolonial hingga pascakolonial. Karya-karya pilihan yang dijadikan ikon komodifikasi merupakan karya perupa akademis, sekalipun di luar itu terdapat karya perupa nonakademis. Namun, karya perupa nonakademis makin memperlihatkan gejala menurun sangat signifikan ketika seni rupa kontemporer menjadi pusat wacananya.”

Sebaliknya, perupa-perupa akademis makin mendominasi praktik seni rupa kontemporer dengan basis wacana dan sosial yang kukuh. Itu terbukti dalam medan pasar yang tengah dipraktikkan pada dekade terakhir ini: ”tren” seleranya terfokus pada karya-karya perupa akademis.

Simpulan itu dibangun dari asumsi dasar bahwa seni rupa kontemporer memiliki basis keilmuan di dalam lingkungan akademis. Artinya, institusi pendidikan tinggi seni rupa -semacam ISI Jogjakarta- memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkembangkan seni rupa kontemporer, baik dalam konteks wacana maupun praktik. Generasi perupa kontemporer secara ”genetis” lahir dari lingkungan akademik. Ini dapat dimaknai bahwa pendidikan tinggi seni dalam konteks medan sosial seni rupa kontemporer memegang posisi kunci. Medan sosial seni rupa kontemporer percaya bahwa praktik seni secara ideologis dibangun dari dasar-dasar keilmuan yang jelas, teruji, dan terukur.

Dengan demikian, jangan heran kalau kisah sukses sejumlah nama popular dalam seni rupa kontemporer Indonesia seperti Eddie Hara, Agung Mangu Putra, Nyoman Masriadi, Rudi Mantofani, Dipo Andy, Galam Zulkifli, Yusra Martunus, dan Jumaldi Alfi tidak bisa dilepaskan dari ISI Jogja sebagai ruang pembuka pertama kesadaran baru dalam eksplorasi seni. Di kemudian hari, mereka mengembangkan secara intensif, kemudian direspons pasar habis-habisan. Sayang, karya mereka tidak hadir dalam forum ”Exposigns” yang teramat penting itu. Saya yakin, para kurator memasukkan nama-nama mereka sebagai peserta pilihan yang diundang. Tapi, entah mengapa mereka tidak bisa ikut?

Ingat, nama besar mereka, diakui atau tidak, ada di dalam bayang-bayang nama besar ISI Jogjakarta, tanpa bisa dielakkan. Tanpa sentuhan pendidikan yang mereka alami di ISI, saya tidak yakin apakah mereka akan bisa mencapai puncak kesuksesan seperti yang mereka nikmati sekarang. Dalam konteks ini, kita tahu bahwa kontribusi pendidikan seni rupa merupakan ruang ”provokasi” untuk membongkar potensi individu agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat seni yang dimiliki serta dieksplorasi terus-menerus dalam ruang sosio-kulturalnya.

Ditilik dari perspektif ini, ”Exposigns” tampaknya sebuah pameran yang ingin menegaskan kontribusi pendidikan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pameran itu merupakan even yang diniatkan untuk mempertegas ISI Jogjakarta sebagai basis intelektual dan basis historis dalam dunia seni rupa Indonesia secara luas. Bukti-bukti ke arah itu jelas nyata. Pameran tersebut menampilkan 551 peserta dengan 600 karya lebih, dan dipresentasikan secara kolosal di sebuah tempat prestisius, Jogja Expo Center, 25-30 November 2009. Di antara sekian nama itu, tertera nama-nama besar yang menjadi ikon dalam sejarah seni rupa modern Indonesia. Antara lain, Affandi, Gambir Anom, Abas Alibasyah, Amri Yahya, Fadjar Sidik, Djoko Pekik, Edhi Soenarso, Hendra Gunawan, dan Widayat. Juga, nama-nama popular dalam seni rupa kontemporer seperti Heri Dono, Nyoman Erawan, Nasirun, Entang Wiharso, Putu Sutawijaya, Pande Ketut Taman, Ugo Untoro, Nurkholis, Rinaldi, Riduan, Tommy Wondra, dan Suraji.
***

Memang, pameran gigantik selalu menebarkan sejumlah risiko. Risiko utamanya adalah terpusat pada kontribusi historis dan makna kulturalnya. Apakah pameran ”Exposigns” merepresentasikan eksplorasi visual yang dapat dibaca sebagai perkembangan sejarah seni rupa modern/kontemporer di Indonesia? Tentu, yang dimaksudkan perkembangan sejarah itu mulai keragaman gaya, medium, teknik, ekplorasi tematik, latar belakang historis, hingga menyentuh soal koneksitasnya dengan medan sosial seni yang juga secara linier berkembang relatif cepat. Hal itu secara jelas digarap oleh tim kurator secara cukup jeli sehingga kita mendapat horizon yang luas tentang sebuah representasi historis dari sebuah lembaga pendidikan tinggi seni di Indonesia. Ragam karya yang disajikan menggambarkan betapa ISI selalu merespons berbagai isu atau paradigma seni yang tengah berkembang dan manjadi isu pokok dalam setiap ruang dan waktu.

Namun, kita tahu, yang berkembang secara cepat setelah era 1980-an di luar institusi pendidikan, yaitu infrastruktur pasar, tanpa diikuti secara seimbang infrastruktur wacananya. Dari sini, kita sadar, seni rupa modern/kontemporer di Indonesia ternyata berkembang secara asimetris. Praktik seni berkembang begitu cepat dengan menyodorkan berbagai fenomena, sedangkan pembacaan kritis menjadi makin tampak mandul. Praktik kritik seni seperti terimpit oleh hiruk pikuk pasar yang cenderung pragmatis, sekalipun harus diakui pasar juga punya peran penting dalam mendorong eksplorasi kreatif para perupa.

Pameran yang dibuka Mendiknas Prof Dr Ir H Mohammad Nuh DEA dan disaksikan ribuan pengunjung yang datang dari berbagai kota itu makin menunjukkan bahwa ISI Jogja tak bisa dielakkan sebagai medan magnet yang punya pengaruh besar dalam dunia seni rupa di negeri ini. Dalam arti luas, ISI dengan ”Exposigns” yang diselenggarakan dalam rangka dies natalis ke-25 memperlihatkan bahwa dari entitas pendidikan, hampir semua eksplorasi seni visual modern/kontemporer dapat dirunut posisi historiografisnya. Posisi tersebut penting. Sebab, dari situlah segala hal yang terkait dengan sejarah -baik secara konseptual, artefak, maupun sosial- dapat dibaca maknanya. Sebab, dari posisi itu, segala referensi perkembangan seni rupa dapat diunduh secara empiris dan teoritis.

Namun, sekali lagi, sayang, peran penting institusi pendidikan seperti ISI Jogjakarta seperti terlepas dari mata rantai dalam jejaring di medan sosial seni. Institusi ini hanya tampak sebagai ”ruang antara” yang dimanfaatkan makna legendanya dalam konteks pasar. ISI Jogja menjadi semacam “branding” untuk meningkatkan ”pamor” sang perupa ketika berelasi dengan medan pasar yang memang memerlukan sejumlah ”branding” guna kepentingan pasar atau kepentingan-kepentingan lain yang dianggap bermakna.

Ini memang sebuah fakta paradoks. Kalau hal demikian itu terjadi terus-menerus, kita memang susah membayangkan di masa mendatang, di ISI Jogja akan ada sebuah gedung yang bernama ”Gedung Masriadi”, ”Ruang Putu Sutawijaya”, ”Selasar Wiyanta”, ”Auditorium Dipo Andy”, ”Boulevard Handiwirman”, ”Galeri Alfi”, dan sebagainya. Artinya, bangunan-bangunan tersebut menjadi tetenger historis bahwa bangunan itu didirikan atas kontribusi seorang alumnusnya yang punya nama besar. Walaupun, nama-nama tersebut tidak perlu hadir secara eksplisit dalam tiap ruang atau bangunan yang didirikan. Tentu, itu hanya sebuah contoh bagaimana agar mata rantai tersebut tidak tampak terputus. Kalau hal itu terjadi, saya yakin ISI Jogja akan menjadi medan magnet yang susah ditandingi dalam konteks pendidikan tinggi seni rupa di Indonesia. ISI Jogja melalui ”Exposigns” terbukti melahirkan nama-nama besar dalam sejarah seni rupa Indonesia. Tak hanya perupa, tapi juga pemikir seni, penulis seni, kurator, sejarawan seni, peneliti seni, dokumentator seni, wartawan seni, birokrat seni, hingga pengusaha seni. Fakta-fakta itu tak terbantahkan!

*) , kurator, lulusan Program Doktor Ilmu Seni Rupa dan Desain ITB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *