
Djoko Saryono * Continue reading “KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (8)”
KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (7)
Djoko Saryono *
Oleh sebab berbagai faktor, sastra Indonesia banyak memantulkan jejak estetika Jawa, membayangkan keindahan dan keelokan Jawa. Cukup banyak bangunan literer atau puitis sastra Indonesia yang bertumpu atau berpusat kemapanan, keselarasan, dan kebersamaan ala Jawa. ¬Jika disikapi secara tentang dengan tidak terburu-buru menghubungkannya dengan nilai estetis Barat atau estetika Barat, maka di dalam teks Pengakuan Pariyem, Para Priyayi, Tirai Menu¬run, Ronggeng Dukuh Paruk, Burung-burung Manyar, Continue reading “KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (7)”
KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (6)
Djoko Saryono
Jabaran dan perincian nilai keindahan dan keelokan Jawa yang saya golongkan ke dalam estetika keselarasan-kemapanan yang sudah dijabarkan dan diperinci dalam postingan sebelumnya (1–5) dapat dirangkum ke dalam matriks berikut ini. Dari matriks ini kita tahu bahwa estetika Jawa sebagai perwujudan budaya Jawa dibentuk oleh beraneka ragam nilai keindahan dan keelokan Jawa. Continue reading “KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (6)”
KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (5)
Djoko Saryono *
/1/
Sesudah keterpesonaan Jawa, saya ingin mendedah atau menggali lebih dalam keterhanyutan ala Jawa dalam sastra. Hal ini sangat penting karena nilai keterpesonaan Jawa tidak dapat dipisahkan dengan nilai keterhanyutan. Bahkan dapat dikatakan, nilai keterhanyutan merupakan dimensi yang lebih subtil, sublim, dan spiritual daripada nilai keterpesonaan. Malah ia biasa disebut tahap estetis yang lebih tinggi. Continue reading “KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (5)”
KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (4)
Djoko Saryono *
/1/
Saya ingin mengeksplorasi lebih jauh perihal keterpesonaan sebagai koordinat nilai normatif estetika Jawa yang notabene merupakan estetika keselarasan-keseimbangan. Nilai keterpesonaan manusia Jawa di sini berkenaan ketertarikan, keterpikatan, dan bahkan keterpanaan rasa manusia Jawa tatkala berhubungan dan bertemu dengan sesuatu yang distilisasi dan diidealisasi yang disebut kesenian Jawa sehingga dirinya mengalami keadaan luluh atau lebur ke dalam keindahan dan keelokan. Continue reading “KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (4)”
