Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah

Eka Kurniawan
Kompas, 31 Mei 2007

Melalui kajian puisi dan cerpen Asrul Sani yang nisbiah jarang jumlahnya dibandingkan dengan esainya, terlihat bahwa cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide, puisi-puisinya sarat dengan beban ide.

Dalam sepucuk esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan ungkapannya disebut sebagai generasi saya sendiri, Asrul Sani menulis: Continue reading “Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah”

Pembacaan Ulang Pengarang Stensilan

Sidik Nugroho *
jawapos.com

NAMA Abdullah Harahap tak pernah dikenal sebagai tokoh penting dalam sastra Indonesia pada eranya (tahun 80-an). Namun ia adalah seorang pengarang produktif, menulis banyak novel stensilan tentang setan, balas dendam, seks, jimat, dan segala yang berbau horor. Kepengarangan Abdullah memang telah usai. Bahkan buku-bukunya kini susah ditemui di toko-toko buku loak sekalipun. Continue reading “Pembacaan Ulang Pengarang Stensilan”

Jimat Sero

Eka Kurniawan
suaramerdeka.com

”KAMU masih sering dipukul orang?” tanya teman lamaku, waktu kami berjumpa di rumah nenek, Lebaran lalu. ”Ya, enggak, lah,” jawabku sambil nyengir.

Ia mengingatkanku pada masa kecil kami. Saat itu ibuku baru melahirkan adik, dan bapak menitipkanku ke rumah nenek di kampung. Di sekolah yang baru, hanya aku yang pakai sepatu dan hanya aku yang punya rautan pensil. Sial sekali memang. Dengan tubuh kecil, ringkih, hidung penuh ingus dan sering pilek, aku menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Setiap hari mereka merampok uang jajanku. Continue reading “Jimat Sero”

9 Pertanyaan untuk Eka Kurniawan: Manfaatkan Cyber sebagai Media Sastra

Grathia Pitaloka
jurnalnasional.com

NAMA Eka Kurniawan sering disebut-sebut sebagai magma baru dunia sastra Tanah Air. Kepiawaiannya dalam memadu kata membuat Eka menuai banyak pujian. Tetapi, segala sanjungan itu tak lantas membuat lulusan Filsafat Universitas Gajah Mada ini menjadi besar kepala, ia malah memanfaatkannya sebagai alasan untuk terus menginjak bumi. Continue reading “9 Pertanyaan untuk Eka Kurniawan: Manfaatkan Cyber sebagai Media Sastra”

Bahasa »