Tag Archives: Eko Endarmoko

Leksikologi ala Indonesia

Eko Endarmoko
Kompas, 26 Nov 2010

PADA 5-6 Oktober lalu Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Atma Jaya menyelenggarakan acara pertemuan linguistik bertemakan ”Bahasa dan Kekuasaan”. Pada akhir acara di hari kedua dilangsungkan diskusi panel tentang tesaurus Indonesia.

Paradoks

Eko Endarmoko
koran Tempo 18 Sep 2009

Kata frustrasi sering benar kita temukan keliru ditulis (atau dilafalkan) menjadifrustasi, sebagaimana kata mengubah juga secara salah ditulis (atau dibunyikan)merubah atau merobah. Tentu saja kita tahu, yang betul adalah frustrasi, bukanfrustasi; dan mengubah, bukan merubah/ merobah. Kata frustrasi adalah serapan dari bahasa Inggris frustration, dan sejak semula bahasa Inggris tidak menuliskannya frustation. Kita juga dapat gampang memastikan, yang benar adalah mengubah, bukan merubah/merobah sebab bentuk itu bermula dari kata ?ubah?, bukan ?rubah?/?robah?, yang memperoleh imbuhan ?me ?.

Sekali lagi Soal Ide dan Bahasa tentang Tanggung Jawab Redaktur

Eko Endarmoko*
Media Indonesia, 26 Agust 2007

MENULIS mungkin sebuah laku absurd. Bayangkan, orang dituntut memberi wujud dalam bentuk tulisan pada sesuatu yang mujarad, yaitu ide yang bersemayam dalam pikiran. Karena itu, seorang penulis niscaya pernah mengalami kesulitan menuliskan ide atau perasaannya. Itu pertama-tama dipengaruhi kekayaan kosakata. Semakin miskin kosakata seseorang semakin sulit pula ia menyatakan pikiran atau perasaannya tadi. Tapi khazanah kata yang kaya tidak dengan sendirinya menjadi jaminan karena menulis tentu juga memerlukan keterampilan merangkai kata, menata kalimat, dan membangun wacana.

W. J. S. Poerwadarminta Bapak Kamus Indonesia

Eko Endarmoko, Anton M. Moeliono
http://majalah.tempointeraktif.com/

Sejak usia 20 tahun sudah mulai bergulat dengan bahasa. Dia mencatat sekaligus merumuskan arti kata sebagaimana yang hidup di tengah pemakainya.

WILFRIDUS Joseph Sabarija Poerwadarminta (12 September 1904-28 November 1968) masuk angkatan orang Indonesia pertama yang memperkenalkan bahasa Indonesia di luar negeri setelah peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda. Ketika menjadi dosen bahasa Melayu di Sekolah Bahasa Asing di Tokyo (1932-1937), ia sering mengatakan kepada orang Jepang bahwa Indonesia sudah punya bahasa nasional sendiri.