Tag Archives: Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib: Dari Langit ke Bumi, Dari Bumi ke Langit

Wita Lestari
Jurnal Nasional, 21 Juli 2013

Cak Nun merupakan sosok yang tak pernah membosankan untuk didengarkan. Cara pandang dan cara penyampaian gagasannya selalu unik.

MASIH dengan rambut gondrong ikal sebahunya, berkemeja putih lengan pendek dengan celana panjang abu-abu gelap, sosok Emha Ainun Nadjib atau dikenal dengan sapaan Cak Nun akhirnya muncul di ambang pintu ruangan buka puasa bersama di kantor IDI (Ikatan Dokter Indonesia), Jl Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (12/7) sekitar pukul lima sore.

Fir’aun dan Tiga Kebenaran

Emha Ainun Nadjib
__Republlika/15 April 2001

Kalau disederhanakan ada tiga model kebenaran yang berlaku dan dialami manusia. Pertama, benarnya sendiri (benere dhewe). Kedua, benarnya orang banyak (benere wong akeh). Dan, ketiga kebenaran hakiki (bener kang sejati).

Sejak mendidik bayi sampai menjalankan penyelenggaraan negara, manusia harus sangat peka dan waspada terhadap sangat berbahayanya jenis kebenaran yang pertama.

Kekasih sebagai Dia, Engkau, Aku

Emha Ainun Nadjib
__Republika/2001

Dalam wacana para Nabi dan Rasul Allah, pada masing-masing zaman, terdapat ‘perjalanan peradaban’ yang berkaitan dengan penyembahan kepada Sang Kuasa. Tentang bagaimana Allah SWT memposisikan diri-Nya.

Pada zaman Nabi Ibrahim AS, misalnya, Allah SWT ‘berposisi’ sebagai ‘pihak ketiga’ (Dia). Atau pada jaringan masyarakat tarikat tertentu dikenal dengan dzikir Huwa. Sedangkan, di zaman Nabi Musa As, Allah SWT ‘berposisi’ sebagai ‘pihak kedua’ (Engkau), atau Anta. Dan, pada perkembangan peradaban di zaman Nabi Isa AS, Allah SWT ‘berposisi’ sebagai ‘pihak pertama’ (Aku), atau Ana.

Tuhan Disaingi Manusia

Muhammad Ainun Nadjib
_buletin Maiyah Jatim, Mei 2012

Kegelapan sosial pada hakekatnya bersifat horisontal. Ada juga yang bertikai soal kegelapan spiritual, kegelapan teologis. Terlanjur bikin setting negara ber-Tuhan, tapi wacana tentang Tuhan dan ajarannya hanya dispekulasikan. Tuhan bahkan dikarang atau diciptakan sendiri.

EMPAT RETAKAN JIWA BANGSA NUSANTARA

Muhammad Ainun Nadjib
__Buletin Maiyah Jatim

‘Perahu Retak’ aslinya adalah judul sebuah lakon teater di awal 1980an yang berkisah tentang sejarah Nusantara pada awal abad 15. Inti kandungannya adalah kegagalan Bangsa (yang pernah sangat besar) Nusantara untuk menemukan kepribadian sosialnya sesudah punahnya kekuasaan besar Kerajaan Majapahit.