Jurus Menulis Esai

Bandung Mawardi*
http://www.suaramerdeka.com/

TRADISI menulis esai di Indonesia memiliki jejak panjang sejak tahun 1930-an. Majalah Pujangga Baru memiliki ruang besar untuk tradisi penulisan esai dengan pelbagai fokus: bahasa, sastra, seni, kebudayaan, pendidikan, sosial, dan filsafat. Esai pada saat itu adalah tulisan bebas dengan acuan pengamatan, pembacaan, penafsiran, penilaian sesuai pandangan pengarang yang cenderung subjektif. Continue reading “Jurus Menulis Esai”

Mengambil Telur Tuhan

Hasan Aspahani
batampos.co.id

MARI bicara lagi tentang sajak. Kali ini kita bicarakan sajak presiden penyair Indonesia: Sutardji Calzoum Bachri. Konon, gelar presiden itu ditabalkan oleh sahabatnya Abdul Hadi WM. Di Taman Ismail Marzuki, keduanya mabuk. Sambil berangkulan Abdul Hadi bilang, “Dji, malam ini kau kuangkat jadi presiden, dan aku wakilnya?” Esoknya koran-koran menulis: Sutardji jadi Presiden Penyair Indonesia. Sejak itu gelar presiden penyair seakan menempel padanya. Tapi, gelar wakil presiden penyair bagi Abdul Hadi sama sekali terlupakan. Ah, memang, jadi wakil presiden itu tidak enak rupanya. Gampang dilupakan. Continue reading “Mengambil Telur Tuhan”

Hak Berimajinasi dan Berwawasan

Sjifa Amori
jurnalnasional.com

Sastra memberi peluang berimajinasi dan keluar dari kebiasaan berpikir instan.

Prosa Peter Pan versi J. M Barrie (seorang penulis naskah asal Skotlandia) adalah kisah tentang kepahlawanan dari dunia fantasi yang bernama Neverland. Secara keseluruhan, karangan tentang Peter Pan dijadikan simbol “pelarian” seorang anak maupun dewasa dari kehidupan nyata. Sebut saja kemujuran Peter Pan yang hidup abadi dalam kemudaan. Ini jelas merepresentasikan setiap mimpi manusia dewasa yang umumnya enggan beranjak tua. Continue reading “Hak Berimajinasi dan Berwawasan”

Puisi, Ekspresi dan Kesadaran Kolektif Personal

Indra Tjahyadi *
suarakarya-online.com

Dapat dikatakan, bahwa puisi merupakan sebentuk ekspresi, yang meskipun teramat sangat bersifat individual, acapkali, entah sifatnya mengkritisi atau mempertegas, masih saja terikat dengan solidaritas kesadaran kolektif personal. Hal ini seperti yang dapat dilihat pada puisi-puisi yang terkumpul dalam kumpulan puisi “Duka Atjeh Duka Bersama” (Dewan Kesenian Jawa Timur & Logung Pustaka, 2005), seperti contohnya pada puisi karya Bonari Nabonenar yang berjudul

“Tragedi Bangsa Pemabuk”: Continue reading “Puisi, Ekspresi dan Kesadaran Kolektif Personal”

Bahasa ยป