Meneropong Perpuisian Indonesia

(Dengan Kaca Pembesar)

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

?Tidak ada lagi penyair, kecuali yang ikut dalam event ini,? ungkap seorang penyair di tengah sebuah ajang biennale sastra internasional di Indonesia, beberapa tahun silam. Ungkapan yang mengagetkan di tengah ingar-bingar pesta sastra, khususnya puisi. Benarkah, setiap ajang lantas mencetak penyair dan menggagalkan proses kreatif plus karya penyair lainnya yang tidak ikut. Alias penyair yang berada di daerah, alias pinggiran, kemudian tak pantas terdaftar di dalam sejarah itu? Continue reading “Meneropong Perpuisian Indonesia”

Gaya Barok pada Puisi Indonesia

Ribut Wijoto
sinarharapan.co.id

Pada dasa warsa akhir abad XX dan hingga kini, kiranya terjadi perubahan konsepsi dalam perwujudan puisi-puisi Indonesia. Kekangan spirit eksistensial yang mengambil bentuk Simbolis bukan lagi menjadi pilihan yang menarik. Model-model semacam puisi Subagio Sastrowardoyo, Sitor Situmorang, Taufik Ismail serasa ketinggalan zaman. Maka muncullah nama-nama penyair seperti Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Sitok Srengenge, HU Mardi Luhung, Arief B. Prasetyo, W. Haryanto, Adi Wicaksono, Oka Rusmini. Puisi-puisi merekalah yang menciptakan masa silam bagi kepenyairan terdahulu. Continue reading “Gaya Barok pada Puisi Indonesia”

FLP, Kritik, dan Gerakan Literasi

Topik Mulyana
pr.qiandra.net.id

Pada Februari 2005, Musyawarah Nasional I Forum Lingkar Pena (FLP) diselenggarakan di Kaliurang, Yogyakarta. Para peserta datang dari Aceh hingga Ternate. Hal terpenting dari Munas tersebut adalah terjadinya pergantian ketua umum. Bagi FLP, pergantian ini merupakan peristiwa penting, karena warna FLP diprediksikan akan berubah drastis. Hal ini mengingat ketua umum terganti Helvy Tiana Rosa (HTR), adalah patron sekaligus brand image yang begitu kuat bagi FLP. HTR adalah FLP, FLP adalah HTR. Sementara, ketua umum pengganti M. Irfan Hidayatullah (FLP Jabar), tidaklah demikian. Continue reading “FLP, Kritik, dan Gerakan Literasi”

Cerpen Versus Puisi

Alex R. Nainggolan*
http://www.hupelita.com/

SEJAK Seno Gumira Ajidarma membedah melalui gaya penulisan cerpennya, terutam dengan diterbitkannya kumpulan Cerpen “Manusia Kamar”, dunia kepenulisan Prosa Indonesia mengalami metamorfosa yang sangat liar. Remy Novaris DM, dalam salah satu esai menulis kalimat di atas. Saya justru melihatnya dalam dunia prosa ada sebuah perubahan yang berlanjut. Continue reading “Cerpen Versus Puisi”

Bahasa ยป