Tempat Domisili Seorang Sastrawan

Beni Setia
suarakarya-online.com

Salah satu gema polemik yang tertinggal dari gairah berkesusastraan pada dekade 80-an kemarin adalah gagasan sastra kontekstual. Secara konsepsi gagasan sastra kontekstual ini menekankan pentingnya kesadaran seorang sastrawan, yang ber-domisili di satu tempat yang kongkrit, dan karenanya menyadari situasi sosial-politik dari tempatnya berdomisili, dan lalu meresponnya. Responnya itu bisa bermakna menandai ketidakadilan sosial, struktural atau nonstruktural, menandai pelaku-pelakunya, dan melakukan penandaan deskriptif dan/atau pemihakan dengan meluncurkan teks kritik atau teks emansipatorik. Continue reading “Tempat Domisili Seorang Sastrawan”

Jalinan Sejarah Sastra Iran dan Indonesia

Mohammad Kh. Azad
http://www.koran-jakarta.com/

Kebudayaan Iran dan Indonesia memiliki jalinan sejarah. Salah satu bukti yang mendukung hubungan sejarah itu adalah adanya persamaan sastra dan bahasa yang saling memengaruhinya. Keberadaan lebih dari 400 kata dari bahasa Persia pada bahasa Melayu yang masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari membuktikan eratnya hubungan ini. Continue reading “Jalinan Sejarah Sastra Iran dan Indonesia”

Puitisasi Politik, Politisasi Puisi?

Lugiena D?*
http://pr.qiandra.net.id/

Dengan politik, pernyataan-pernyataan tak usah cocok 100% dengan fakta, tapi –seperti halnya puisi– harus bisa memesona. Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3

Entahlah, sekonyong-konyong di Sabtu pagi, ketika jongkok di tukang koran, saya tiba-tiba tergoda untuk ikut jabung tumalapung, setelah membaca tanggapan lebih lanjut dalam “Puitika, Politika, Retorika” yang ditulis oleh Ahmad Syubbanudin Alwy. Ya, semoga saja bisa menjadi bahan perbandingan. Okeh, kita mulai saja… Continue reading “Puitisasi Politik, Politisasi Puisi?”

Bahasa ยป