Menjadi Tubuh Sendiri

Yopie Setia Umbara*
http://pr.qiandra.net.id/

MEMBACA kembali sajak berjudul “Menjadi Penyair Lagi” karya Acep Zamzam Noor yang bertiti mangsa tahun 1996, saya terpikat untuk lebih dekat dengan sajak tersebut. Sajak ini menjadi judul kumpulan puisi Acep Zamzam Noor Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007) dan meraih anugerah Khatulistiwa Literary Award 2007. Continue reading “Menjadi Tubuh Sendiri”

Diksi Traumatik Acep Zamzam Noor

Beni Setia *
cetak.kompas.com

Struktur kumpulan puisi terakhir Acep Zamzam Noor, Menjadi Penyair Lagi, (Pustaka Azan, 2007), dibangun dua fondasi: “Ada yang Belum Kuucapkan” (AyBK), yang terdiri dari 53 sajak, dan “Menjadi Penyair Lagi” (MPL), yang terdiri dari 38 sajak. Bukanlah satu kebetulan bila kumpulan itu diawali dengan sajak “Setelah Mencintaimu” (dari AyBK) dan diakhiri sajak “Di Malioboro” (dari MPL) yang memang diletakkan di pengujung. Continue reading “Diksi Traumatik Acep Zamzam Noor”

POLITIK KEBUDAYAAN

Maman S Mahayana *

Seniman sejati berkarya lantaran desakan hati nurani. Reputasi, kebesaran, dan popularitasnya, pertama-tama sangat ditentukan oleh kualitas karyanya. Maka sesiapa pun dia, dengan ideologi apa pun, dan dengan latar belakang kebudayaan mana pun, tetap akan sampai pada prestasi yang reputasional, jika ia berhasil membangun kualitas karyanya menjadi monumen! Tanpa kualitas, ia hanya akan menjadi pelengkap, medioker, dan namanya tercatat dalam sebuah senarai dengan urutan angka dan daftar karya, tanpa torehan stabilo, tanpa peristiwa. Continue reading “POLITIK KEBUDAYAAN”

Reposisi Sastra Indonesia

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Posisi sastra Indonesia kini sudah sedemikian terpuruk menjadi barang yang tidak relevan dalam konteks pendidikan. Sastra Indonesia sudah pailit. Anak-anak sekolah Indonesia hampir tak mendapat pelajaran sastra lagi. Dalam sebuah penyidikan informal, sastrawan Taufiq Ismail menemukan bahwa pelajar Indonesia membaca 0 (nol) buku di dalam kurun 3 tahun, sementara pelajar dari berbagai negara mencatat 10 sampai 30 buku. Continue reading “Reposisi Sastra Indonesia”

MENULIS DAN ASMA NADIA

Sutejo
Ponorogo Pos

Kalau teman di Lingkar Pena Asma Nadia, ada sebuah wawancara kecil dengan Kompas, seorang penulis perempuan berbakat pernah bilang begini: “Saya tidak ingin menyia-nyiakan talenta dari Tuhan dan menjadikan menulis sebagai salah satu bentuk ibadah.” Perempuan penulis itu adalah Helvy Tiana Rosa, yang saat ini dikenal sebagai penulis cerpen dan novel. Karyanya sudah dipublikasikan di majalah anak-anak sejak ia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar (SD). Lebih dari itu, konon, ia sudah mulai menulis catatan harian mulai kelas satu SD. Continue reading “MENULIS DAN ASMA NADIA”

Bahasa ยป