Memorabilia untuk Pramoedya Ananta Toer

Fahrudin Nasrulloh *
jawapos.com

Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan.
Duniaku bumi manusia dengan segala persoalannya (Rumah Kaca: hlm. 38)

Pada sore 6 Februari 2009 yang bergerimis ritmis, sampailah saya di Jl Sumbawa 40, Jetis, Blora. Di sepanjang perjalanan dari Jombang, saya terus terusik, apa yang membuat Pramoedya Ananta Toer tak pernah lekang dikenang dan tiada surut ditelusuri banyak orang, terutama kaum pramis dan kawula pergerakan? Continue reading “Memorabilia untuk Pramoedya Ananta Toer”

Jatuh Bangun Pengarang Jawa

Sucipto Hadi Purnomo
http://www.suaramerdeka.com/

KETIKA pada tahun 1980-an Suripan Sadi Hutomo menyebut sastra Jawa sedang memasuki era sastra majalah, lantaran karya-karya yang ada hanya tersuguhkan lewat majalah, Suparto Brata pun gerah. Serasa tak pernah lelah, dia kemudian melakukan ”perlawanan”. Seraya menganggap ketergantungan pada majalah hanya akan membuat sastra Jawa menjadi sastra bonsai, dia pun mengajak banyak pihak untuk menerbitkan karya dalam bentuk buku. Tak cuma mengajak, tetapi juga jatuh-bangun mbandhani karya-kayanya. Continue reading “Jatuh Bangun Pengarang Jawa”

Pengganti Kang Ajip

Iman Budhi Santosa
suaramerdeka.com

SEBAGAI orang yang ikut kemringet nguri-uri kesusastraan dan kebudayaan Jawa, saya benar-benar tidak mudheng. Mengapa gagasan memberi anugerah sastra Jawa selama ini tidak mrenthul dari kalangan orang Jawa, melainkan digagas dan direalisasikan oleh seorang Ajip Rosidi, orang Sunda yang menggeluti sastra dwibahasa (Sunda dan Indonesia) melalui anugerah Rancage. Memang, semula Hadiah Rancage hanya bagi sastra Sunda, namun akhirnya toh meluas juga, menyantuni sastra Jawa dan Bali, bahkan Lampung. Continue reading “Pengganti Kang Ajip”

GERAK PERJALANAN ESTETIK CERPEN INDONESIA

Maman S. Mahayana *

Cerita pendek Indonesia dalam satu dasawarsa ini, agaknya makin mengukuhkan jati dirinya. Ia tak hanya muncul seperti gelombang yang secara kuantitatif melampaui penerbitan novel dan drama, tetapi juga seperti menempatkan dalam mainstream-nya sendiri. Maka, tidak dapat lain, pembicaraan mengenai cerpen Indonesia, mesti dilekatkan pada dirinya an sich dan bukan sebagai tempelan atau sekadar pelengkap. Kini cerpen Indonesia menunjukkan jalan hidupnya yang lebih mandiri. Kajian kritis terhadapnya dan pembicaraan cerpen dalam institusi (pendidikan) sastra, oleh karena itu, mesti berada dalam kotak tersendiri. Continue reading “GERAK PERJALANAN ESTETIK CERPEN INDONESIA”

Bahasa ยป