Rendra, 70 Tahun

Goenawan Mohamad
http://www.korantempo.com/

Rendra adalah sebuah pergulatan yang penting dalam sejarah pemikiran Indonesia. Hidupnya yang kini mencapai 70 tahun terbentang dalam sebuah masa yang panjang di mana percakapan, gagasan, dan kekuasaan bentur-membentur. Dan ia ada di dalam perbenturan itu, ia adalah perbenturan itu, sebagai pelaku, saksi, dan juga penderita.

Tapi baiklah saya mulai dengan mengatakan apa yang sudah umum diketahui: Rendra, sejak ia berangkat sebagai penyair, adalah sebuah suara tersendiri. Continue reading “Rendra, 70 Tahun”

BELAJAR MENULIS DARI ISBEDY STIAWAN ZS

Sutejo
Ponorogo Pos

Nama penyair Lampung ini tampaknya tidak seakrab nama sastrawan kita macam Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, Hamid Jabbar, Sutardji Calzoum Bahri, Wiji Thukul, dan lain sebagainya. Meskipun begitu dalam Isbedy adalah sastrawan yang tidak perlu lagi dipertanyakan komitmen dan eksistensinya dalam dunia kepenyairan (belakangan juga memasuki dunia cerpenis). Ada beberapa hal menarik dari pengakuannya. Continue reading “BELAJAR MENULIS DARI ISBEDY STIAWAN ZS”

Nol

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Nol Buku! Itulah puncak sarkasme yang pernah dilontarkan penyair Taufiq Ismail tentang jumlah buku sastra wajib di sekolah-sekolah menengah kita. Padahal, di jenjang pendidikan yang sama, (tidak untuk memuji, tapi mengemukakan fakta), pada zaman Belanda, masing-masing siswa harus membaca 15 sampai 20 buku sastra wajib. Jumlah yang masih terus dipertahankan sampai kini di sekolah-sekolah menengah di Eropa, Amerika, bahkan Asia, seperti Singapura, Jepang, Malaysia, dan juga Brunai Darussalam. Continue reading “Nol”

Tasawuf, Fenomena Kota

Ahmad Nurullah
http://jurnalnasional.com/

TASAWUF merupakan fenomena kota. Sufi-sufi awal hingga mutakhir menyampaikan ajarannya mula-mula kepada penduduk kota. Begitu pula di Indonesia. Sejak awal kedatangan dan pesatnya perkembangan Islam di Indonesia pada abad ke-13 sampai ke-17 Masehi, para ahli tasawuf memulai aktivitas mereka di kota-kota pelabuhan, tempat munculnya komunitas-komunitas Islam yang awal di kepulauan Melayu Nusantara. Continue reading “Tasawuf, Fenomena Kota”

SASTRA INDONESIA SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA

Maman S. Mahayana *

Ketika Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, menegaskan pernyataan sikap para pemuda Indonesia: “bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia; berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, saat itulah identitas etnis diwakili Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Bataksbond, Jong Celebes, Continue reading “SASTRA INDONESIA SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA”

Bahasa ยป