BERGURU PADA KETERBIUSAN MENULIS BUDI DARMA

Sutejo
Ponorogo Pos

Tanggal 8 Desember 2007 adalah hari pelepasan seorang sastrawan besar Indonesia. Sastrawan itu sering memiliki jargon yang unik, jargon itu diantaranya adalah (i) bahwa dunia sastra adalah dunia jungkir balik, (ii) pada mulanya karya sastra adalah tema, (iii) menulis itu berpikir, (iv) menulis rangkaian dari peristiwa kebetulan, (v) menulis itu seperti naik pesawat terbang (kuatnya imajinasi), Continue reading “BERGURU PADA KETERBIUSAN MENULIS BUDI DARMA”

ANAK-ANAK YANG SETIAP PAGI MEMUNGUTI AIRMATA

:LANSKAP KEKERASAN DALAM NARASI PUITIK
R. Timur Budi Raja

I.
Saat sajak-sajak ini disodorkan hingga sampai di tangan saya, tak ada lain yang melintas di benak saya, kecuali kecurigaan. Tepatnya, keinginan untuk mencurigai. Lebih-lebih mengingat ketika kawan saya, Taqin, -sang penelepon gelap yang berposisi di Surabaya itu-, mengabarkan bahwa satu jam kemudian pasca kontak dia akan berkunjung ke tempat saya di Junok. Continue reading “ANAK-ANAK YANG SETIAP PAGI MEMUNGUTI AIRMATA”

Mengenal jalaluddin Rumi

M. Wildan Habibi
http://celaledinwahyu.blogspot.com/

Kerap kali puisi-puisi relegius semacamnya terdengar di awal bulan Desember setiap tahun di Turki. Dan kota itu pun semakin semarak saja pada tanggal 17 Desember, karena malam itu adalah malam puncak sebuah festival. Malam yang disebut dengan “Sheb-I Arus” yang berarti “Malam Perkawinan”. Yaitu pertemuan seorang hambanya dengan Tuhannya. Malam itu adalah tepat malam wafatnya seorang sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi. Dia adalah seorang filosof dan ahli mistis Islam, yang juga dikenal lewat syair-syair relegiusnya. Syair-syair yang kini lagi digandrungi banyak tokoh Eropa dan Amerika. Continue reading “Mengenal jalaluddin Rumi”

TEGUR-SAPA

Maman S. Mahayana *

Halo cerpen, apa kabar? Itulah tegur sapa saya pada hari Minggu. Setumpuk suratkabar berserakan di meja depan. Saya membacai berita-berita aktual, meludahi berita tentang intrik politik dan kisah para koruptor, prihatin atas ketergusuran kaum miskin, dan diam-diam mencuri gagasan atas sejumlah artikel yang tersaji di sana. Itulah hidangan pembuka sarapan pagi. Lalu, selepas itu, cerpen kadangkala juga puisi, gilirannya menjadi hidangan utama. Continue reading “TEGUR-SAPA”

Bahasa »