PERI CANTIK ATAU HANTU FEMINISME?

Nurel Javissyarqi*
http://media-sastra-indonesia.blogspot.com/

Perempuan itu kelembutan bathin, kehalusan air, hati yang mengarus. Jiwanya ombak senantiasa memiliki keyakinan, yang menampilkan pamor kecantikan. Keteguhannya, kesabaran mengaliri tiap-tiap cela kehidupan. Tanpa dirinya, dunia kering-kerontang tiada ricik-gemericik tangis bayi para insan. Dan kaum lelaki tongkat estafetnya, saat menyadari pentingnya kembang jiwa. Continue reading “PERI CANTIK ATAU HANTU FEMINISME?”

MENGENAL GURINDAM

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Gurindam secara umum, semula dipahami sebagai dua baris perkataan yang menjadi peribahasa atau pepatah. Mengingat pesan yang dikandungnya berisi nasihat atau peringatan, maka dalam masyara?kat Melayu, gurindam sering dianggap sejenis dengan kata mutiara. Ia ditulis di halaman buku atau ditempel di dinding sebagai penghias. Kadang kala diucapkan oleh para tetua desa pada acara-acara tertentu sebagai nasihat atau peringatan. Mereka menganggap bahwa nasihat seperti itu sebagai sesuatu yang patut disampaikan dan diresapi pendengarnya. Perhatikan contoh gurindam berikut ini: Continue reading “MENGENAL GURINDAM”

Seni(man) yang Terbelenggu

Marhalim Zaini

Untuk memulai tulisan ini, saya hendak mengutip satu paragraf penting dalam salah satu esai Putu Wijaya. Begini bunyinya, “Tidak mudah menjadi seniman, kalau seniman bukan diartikan sebagai sekadar label dan status, tetapi fungsi. Sebagai fungsional ia dituntut untuk bekerja. Bekerja tidak hanya kalau ia sedang bernafsu, ketika tanpa nafsu pun ia mesti berekspresi. Karena kalau tidak berkarya ia berarti tidak berfungsi. Seni bukan lagi kesenangan, meskipun bisa menyenangkan sekali. Seni adalah pencarian yang tak pernah selesai. Sebuah tugas yang tak bisa ditolak. Bahkan sebuah kutukan bagi dia yang tak bisa memilih lain kecuali jadi seniman.” (Bor, 1999). Continue reading “Seni(man) yang Terbelenggu”

Bahasa »