PERI CANTIK ATAU HANTU FEMINISME?

Nurel Javissyarqi*
http://media-sastra-indonesia.blogspot.com/

Perempuan itu kelembutan bathin, kehalusan air, hati yang mengarus. Jiwanya ombak senantiasa memiliki keyakinan, yang menampilkan pamor kecantikan. Keteguhannya, kesabaran mengaliri tiap-tiap cela kehidupan. Tanpa dirinya, dunia kering-kerontang tiada ricik-gemericik tangis bayi para insan. Dan kaum lelaki tongkat estafetnya, saat menyadari pentingnya kembang jiwa.

Ini bukan kehendak menuturkan siang-malam, tapi menciptakan kesatuan harmoni, fajar rahmat, senja temaram yang berpelukan. Dalam percumbuan manis, kreasinya terus menggelora, menyedot bak magnit atau garam guna-guna, yang disebar di setiap pepintu lelaki melangkahkan kaki ke luar rumah.

Senyum penantiannya sepenuh harapan, melihat dunianya membawa manfaat laki-laki menjejakkan kepercayaan, meneruskan langkah sebagaimana nafas-nafas doa. Bukan berarti berdoa tanpa aktivitas, kreativitasnyalah harapan.

Wanita bukan pemancing atau ikannya. Ia mampu jadi penjala paling lihai di antara lelaki, atau kedudukannya sepadan gairah mewujudkan keinginan-keinginan hayat. Munculnya hantu-hantu, sebab keterasingan, keterkucilan yang tak memahami karakternya.

Wanita bukanlah hantu menakutkan atau penggoda. Karena para lelaki pun memiliki daya rangsang yang serupa, ketika memasang ranjau pikatnya. Dalam sifat dasarnya, keduanya menuntut berbeda yang awalnya berangkat dari pengertian-pengertian, lantas menuju kedewasaan makna.

Adalah sejarah sosial insan, terkuasai perkembangan materi yang menciptakan keduanya berbeda, berangkat dari didikan, tingkah pakola norma yang dibangun sejak kesadarannya belum terbentuk.

Saat keduanya mencapai kebebasan kesadaran, yang tampil bukan saling menyerang, tapi topang-menopang bantu-mengisi. Maka usalah hawatir munculnya hantu feminisme. Perbedaan malam-siang sebagaimana wewarna perasaan, yang menajamkan sudut-sudut singgung pada awal terciptanya gagasan.

Keduanya memiliki kekuatan mengolah bencah materi, menempati alam spiritual sendiri-sendiri. Tidak jauh berbeda saat menggunakan kacamata obyektif pada daerah kekuasaan, atas telah mampu mempelajari realitas kesungguhan.

Tidakkah ketakutan muncul sebab merasa tidak mempunyai tameng atas kedatangannya? Ketakutan menjelma hantu menerkam, padahal bukan saingan melainkan pendamping. Maka berilah lahan seluasnya berekspresi, membuka jalan mempelajari was-was, dengan menyadari fitrohnya. Dan ketakutan itu hakikat kekalahan sebelum mata menyapa takdir jaman.

Kemampuan air menjelma beku, seharusnya dipelajari, agar dalam mengembangkan pengetahuan tidak timpang menimbulkan peperangan. Kita sering menyuntuki apa yang tersukai dan menghindari yang ditakuti. Maka timbullah rasa cemburu, fikiran negatif merusak pribadi.

Wanita sejatinya tidak menuntut berlebih kiranya lelaki memberi pandangan fitri kepada sosoknya. Adalah miris dinaya ketakutan kaum lelaki, menjadikannya pemenang semu. Lalu, atas tekanan bertubi-tubi, wanita menjelma pemberontak.

Sementara hakikat niat memiliki sifat kewanitaan juga kelelakian. Yang membedakan ialah fitrohnya, sedangkan kedudukan nalar serta spiritualitasnya sama berdayadinaya. Sebab keunggulan insan pada realitas kerjanya tubuh dan jiwa, seiring sejalan menciptakan kualitas dirinya paripurna.

*) Pengenala, 17 Mei 2006, Lamongan, Jawa Timur, Indonesia.

One Reply to “PERI CANTIK ATAU HANTU FEMINISME?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *