
(Penari, Lukisan Ndix Endik, Cat minyak di kanvas)
Taufiq Wr. Hidayat * Continue reading “PERAHU DAN ORANG-ORANG YANG MENANGIS”
Nobel, Jurnalis, dan Prosa Polifonik
Khairul Mufid Jr
Dia adalah pengangkat monumen penderitaan dan keberanian saat ini, karya polifoniknya berdiri di antara dokumenter dan novel, di antara non-fiksi dan fiksi, karyanya bukan hanya tentang “sejarah emosi-bahkan sejarah jiwa”, sebuah karya sastra pncerah yang tidak hanya materinya tetapi juga karena bentuk karyanya. Svetlana Alexievich punya nama, seorang jurnalis dari Belarusia. Continue reading “Nobel, Jurnalis, dan Prosa Polifonik”
Strukturalisasi Pengalaman, Imajinasi, dan Nilai
Kuntowijoyo
Kompas, 22 Nov 1999
BURU-BURU harus dikatakan bahwa pada dasarnya seseorang menulis itu harus dengan intuisi, tidak dengan formula apapun. Artinya cerita rekaan begitu saja keluar secara langsung, alamiah, dan sederhana. Meskipun setiap penulis pasti mempunya kiat sendiri-sendiri, tetapi barangkali pengalaman saya di bawah ini ada kesamaannya dengan pendekatan teman-teman penulis lain. Continue reading “Strukturalisasi Pengalaman, Imajinasi, dan Nilai”
Kalau Mau Tembak, Tembaklah
Eka Kurniawan
Jawa Pos, 28 Maret 2020
Akhir-akhir ini muncul kisah lama tentang malapetaka dan pertolongan Tuhan, yang dibagiulangkan untuk banyak orang. Salah satunya seperti ini.
Ada seorang imam yang daerahnya kebanjiran. Datanglah tukang perahu untuk menolong, tapi ia tak mau. Ia memutuskan naik ke atas bukit sambil berkata, ”Tuhan akan menolongku.” Banjir makin besar, perahu datang lagi, tapi ia ngeyel dan terus naik ke puncak. Continue reading “Kalau Mau Tembak, Tembaklah”
Bahasa Hakekat Keindahan Sastra
Sayyid Fahmi Alathas *
riaupos.co
SEORANG pengarang dalam menciptakan keindahan sastra melakukan berbagai proses keyakinan ataupun proses penjiwaan dari sisi keindahan makna yang terdapat pada karya sastra. Meskipun hakekat keindahan sastra yang terjadi sebagai upaya pergolakan dari sisi panutan dalam proses lingkungan sosial masyarakat ataupun pembaca. Continue reading “Bahasa Hakekat Keindahan Sastra”
