PAGEBLUK KEEMPAT DAN BIBIR YANG KUTUNGGU

Djoko Saryono *

(1)
Umurku kini sudah 63 tahun lewat beberapa bulan. Berarti sudah kulalui empat pagebluk besar berskala luas yang amat mencekam dan sangat mengerikan. Tiga pagebluk bermula dari perbedaan pandangan yang diolah jadi hoaks dan kabar bohong atau kabar burung, yang lalu berujung pada pembantaian brutal dan massal. Sejarah macet di situ — tak ada narasi pasti dan jelas — semua terkarantina misteri. Hanya pagebluk sekarang bermula dari kehancuran alam semesta, yang menjadikan makhluk selain manusia kehilangan habitat hidupnya, lantas beradaptasi dan bermutasi, dan berujung menyerang manusia. Orang-orang menamai wabah pandemi virus korona. Aku suka menyebutnya pagebluk korona. Continue reading “PAGEBLUK KEEMPAT DAN BIBIR YANG KUTUNGGU”

Spionase Ketahanan Pengarang

Khairul Mufid Jr

Menjadi seorang pegawai, pada saatnya ia akan dihantui rasa jenuh dan ingin menyudahi status kepegawaiannya, namun ada pula yang tetap getol dan tekun bekerja meski badannya telah runduk dengan beban usia (uzur) disandangnya. Tapi anggapan itu tampaknya kurang pas dalam dunia kepengarangan, banyak karya bagus dan monumental lahir dari pengarang muda, dewasa, bahkan tua yang tetap konsisten menggembalakan imajinasinya. Disinilah usia dipertaruhkan untuk sebuah trah “produktivitas”. Continue reading “Spionase Ketahanan Pengarang”

KECAKAPAN BERPIKIR ARAS TINGGI

Djoko Saryono *

Terdapat keyakinan umum bahwa Abad XXI memerlukan kecakapan berpikir aras tinggi — lidah orang Indonesia lazim dan fasih sekali mengucapkannya dengan istilah: hots, higher order thinking skills. Lembaga, organisasi, dan komunitas internasional dan nasional sepakat mengaminkan kepusatan kecakapan berpikir aras tinggi ini. Lebih-lebih lembaga pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, telah menjadikan kecakapan berpikir aras tinggi sebagai sumsum keyakinan yang akan mempersembahkan kesuksesan dan keunggulan. Continue reading “KECAKAPAN BERPIKIR ARAS TINGGI”

Kita adalah Kritikus Sastra

Khairul Mufid Jr

Dalam historisitas kesusastraan dunia, kritik sastra pertama kali dilakukan dua orang Yunani, yaitu Xenophanes dan Heraclitus sekitar tahun 500 SM. Xenophanes dan Heraclitus mengecam keras seorang pujangga besar bernama Homerus yang sering bercerita tentang hal-hal yang tidak senonoh tentang dewa-dewi. Hal inilah yang mengawali pemikiran Plato tentang “pertentangan purba antara puisi dan filsafat.” Continue reading “Kita adalah Kritikus Sastra”

Bahasa »