Menyelidik Karya Sastra seperti HB Jassin

Hasan Aspahani *
Kompas, 9 Juni 2018

Ketika Universitas Indonesia menganugerahi gelar doktor honoris causa, pada 14 Juni 1975, HB Jassin menerima dengan khawatir. Gelar kehormatan dari perguruan tinggi—lembaga dengan otoritas ilmiah itu—jelas bernilai dan bermuatan akademis. Justru itulah yang dikhawatirkan olah Jassin, kekhawatiran yang bercabang ke dua arah. Continue reading “Menyelidik Karya Sastra seperti HB Jassin”

KONFIGURASI PENDIDIKAN DALAM WAYANG

Djoko Saryono *

/1/
Sebagai habitus, arena atau ranah kontestasi kepentingan, kekuatan, dan kekuasaan pendidikan, wayang [sebagai lakon, pertunjukan, dan komunitas] menghadirkan dan mencontohkan konfigurasi pendidikan yang membentuk sebuah corak atau ”mazhab” pendidikan tertentu, yang demi kemudahan dapat disebut corak atau ”mazhab” pendidikan wayang. Di sini timbul pertanyaan: seperti apakah konfigurasi atau karakteristik ”mazhab” pendidikan wayang? Menurut hemat saya, konfigurasi atau karakteristik ”mazhab” pendidikan wayang Jawa sebagai berikut. Continue reading “KONFIGURASI PENDIDIKAN DALAM WAYANG”

MEMBACA PERISTIWA, MENJUMPAI MANUSIA

Catatan Kesan atas Kumpulan Puisi “Nyala Abadi”

A. Syauqi Sumbawi *

Peristiwa kemanusiaan merupakan inti, sekaligus menggerakkan kehidupan dunia. Di sini, keterlibatan manusia menjadi sebuah keniscayaan, dimana keberadaannya tidak hanya sebagai subjek, tetapi juga sebagai objek peristiwa. Sederhananya, manusia adalah pembaca, kauniyah, dan proses itu sendiri. Karena itu, sangat dipahami jika perintah pertama yang diberikan kepada manusia adalah perintah membaca—proses intelektualitas dan spiritualitas—, yang pada gilirannya melahirkan kesadaran atas kemanusiaannya. Continue reading “MEMBACA PERISTIWA, MENJUMPAI MANUSIA”

Bahasa »