DI PELABUHAN MENENG DAN TERMINAL KAPURAN

(Ayam Jantan, Cat minyak di kanvas, lukisan Ndix Endik)
Taufiq Wr. Hidayat * Continue reading “MALAM DAN HUJAN YANG SINGGAH”
DI PELABUHAN MENENG DAN TERMINAL KAPURAN

(Ayam Jantan, Cat minyak di kanvas, lukisan Ndix Endik)
Taufiq Wr. Hidayat * Continue reading “MALAM DAN HUJAN YANG SINGGAH”
D.A. Peransi
Akhir-akhir ini banyaklah diterbitkan roman dan cerita yang dengan jelas sekali menggambarkan fakta-fakta seksual. Beginilah kebohongan-kebohongan terbesar itu dilakukan atas nama kejujuran dan keterusterangan. Penentuan sinis bahwa dunia sudah demikian dan bahwa hal-hal tersebut lebih baik, juga diceritakan, bukanlah kebenaran yang terakhir. Amatlah berfaedah untuk mencoba sampai pada pengertian dan dengan demikian sikap sebenarnya terhadap lektur semacam itu. Continue reading “Eros dan Sastra”
Indra Tranggono *
Kompas, 13 April 2008
DUNIA naskah lakon kita mungkin adalah dunia sunyi dan marjinal. Ini, antara lain, ditandai dengan kelangkaannya. Soal ini telah lama menjadi keprihatinan kolektif publik teater. Dalam Festival Teater Jakarta 2007 Desember lalu, isu itu kembali mencuat. Continue reading “Mengakhiri Marjinalitas Naskah Lakon”
Bandung Mawardi *
Di Kompas, ia sering tampil dengan opini. Cerpen turut disajikan ke pembaca. Puisi? Para pembaca Kompas mungkin jarang mengenali keampuhan lelaki asal Jogjakarta itu melalui halaman puisi. Opini-opini di Kompas memang bermaksud “menasihati” atau mengingatkan pembaca mengenai hal-hal darurat atau rawan prihatin. Aku kadang membaca serius, kadang merasa sudah mengerti sejak di judul dan alinea awal-akhir. Di halaman 6 atau 7, Indra Tranggono itu esais besar di Kompas. Ia pun muncul di Kedaulatan Rakyat dan Solopos. Aku menganggap halaman di Kompas mengesahkan Indra Tranggono itu budayawan, sebutan sulit mendapat arti terang di Indonesia. Rajin beresai menjadikan orang bergelar budayawan? Continue reading “Puisi Terlalu Tragedi”
Djoko Saryono
Sekarang kita (baca: manusia) tengah berada di perahu kehidupan, kebudayaan, dan atau peradaban Abad XXI di planet bumi. Apakah yang diperlukan untuk melangsungkan dan memberlanjutkan kehidupan (umat) manusia secara bermartabat pada zaman sekarang, apalagi zaman akan datang di perahu Abad XXI? Di situ, apakah yang diperlukan demi keselamatan dan keberlanjutan eksistensial kita sebagai spesies sapiens? Kearifan-kebijaksanaan atau kecerdasan-kepandaian? Ataukah keduanya sesungguhnya yang sedang diperlukan? Continue reading “DI MANAKAH KITA SEKARANG: ZAMAN KEBINGUNGAN?”