Merayakan Ruang Perjumpaan

Adhi Pandoyo

“Ketika saya melihat seni patung India, saya amat takjub dan kagum sebab hasil seninya langsung berkesan pada saya. Tapi bila saya melihat sesuatu hasil Eropa yang baik, kesan yang pertama saya terima ialah tehniknya. Ambillah sebagai contoh seni pahat Rodin. Kesan saya ialah betapa pintarnya ia, betapa reel dan naturalistisnya ia menguasai bentuk. Tapi bila semua hal-hal tersebut saya lupakan, barulah terlihat oleh saya isi seninya. Jadi untuk mengerti ketinggian nilai seni Rodin sangat lama makan waktu, sedang pada seni India, impresi itu demikian besarnya, hingga bagi saya tak ada waktu untuk melihat kepintaran dalam soal-soal bentuk atau hal-hal lain.” (Ceramah Affandi di Sorbonne, Perancis, 1953). Continue reading “Merayakan Ruang Perjumpaan”

Koreografi dari Ambang Batas Tari

Afrizal Malna

Sebuah percakapan kecil, gerak-gerak kecil, terputus, ragu, gerak diulang kembali, merupakan adegan-adegan pembuka pertunjukan tari Ruang Abu-Abu karya Sekar Alit dari Surabaya. Lalu seorang penari perempuan, yang dimainkan sendiri oleh Sekar Alit, menyanyikan sebuah lagu cinta yang juga penuh keraguan. Sebuah koreografi yang mulai ditempatkan di atas ambang batas tari dengan yang bukan tari. Tari tidak lagi melulu diperlakukan sebagai sebuah kesatuan gerak, tetapi juga sebagai instalasi gerak dengan struktur yang tidak saling mengikat. Continue reading “Koreografi dari Ambang Batas Tari”

PERJALANAN PUISI NARATIF

Maman S Mahayana
Kompas, 4 Agu 2018

Ada banyak cerita tentang tradisi puisi kita. Konon, sumbernya dari Eropa, khususnya Belanda. Muhammad Yamin memperkenalkan soneta. Ia lalu dianggap yang mengawali tradisi puisi Indonesia (modern). Sutan Takdir Alisjahbana (STA, 1946) menyebutnya puisi baru untuk membedakannya dengan puisi lama. Garis pemisahnya terjadi abad ke-20. Bagi STA, sebelum abad itu, puisi lama sebagai pancaran masyarakat lama, zaman jahiliyah, pra-Indonesia. Selepas tahun 1900, bergeraklah puisi (baru) Indonesia. Gagasan itulah yang membentuk dikotomi puisi lama—baru, tradisional —modern. Buku yang disusun Sapardi Djoko Damono (2003), Puisi Indonesia sebelum Kemerdekaan, mewartakan lain. Ia menguak sejumlah puisi abad ke-19. Continue reading “PERJALANAN PUISI NARATIF”

Penulis Penjual Buku?

Refleksi Pendampingan Komunitas Baca-Tulis di Mojokerto
Sutejo

“Tugas penulis memang menulis yang berkualitas, tetapi jika tidak mengerti medan pasar, untuk apa kita menulis. Tersebab, menulis bukan sekadar idealisme tetapi juga bernilai ekonomi.” (Sutejo)
***

Sebelumnya, mohon maaf kepada para guru kehidupan yang sudah lebih dulu menulis. Ini hanya untuk menggairahkan kehidupan kata. Continue reading “Penulis Penjual Buku?”

Nurul Hadi “Koclok” (23 Juni 1968 – 1 Agustus 2017) dalam Proses Kreatif saya!


Nurel Javissyarqi

Waktu terus bergerak; melengkung lebar, mengumpar, mengerucut, mengurai masa-masa juga mempersempat temponya. Melonjak naik, berkelejatan turun, meringkus tekanan, menggarami luka serta jauh dari perkirakan manusia. Dan searah lembaran telah tercatatkan, banyak orang memberi wewarna dalam proses kreatif saya ke alamnya kata-kata, meski secara tidak langsung atau setengah disengaja, yang melalui laku kehidupan sehari-hari bersamanya. Salah satunya, sang penggerak kesenian yang khususnya di panggung teater dan perfilman di Jogja, yakni Nurul Koclok. Semoga seluruh kalimat yang tertuang dalam catatan ini terbaluti alunan sholawat, dengan harapan kawan tercinta kita ini tenang damai di sisi-Nya. Continue reading “Nurul Hadi “Koclok” (23 Juni 1968 – 1 Agustus 2017) dalam Proses Kreatif saya!”

Bahasa »