Negeri Mitos

Bandung Mawardi
Seputar Indonesia, 18 Okt 2oo9

Peradaban dunia selalu lahir dan tumbuh dengan dilema antara mitos, sastra, dan sejarah. Tiga perkara ini memiliki ciri berbeda tapi kerap hadir bebarengan sehingga memunculkan kerancuan. Ketidakmafhuman atas tiga perkara itu memungkinkan publik tersesat atau mengalami sesat pikir alias termasuk “kaum rancu.” Bagaimana korespodensi dalam mitos, sejarah, dan sastra sanggup memberi terang untuk memeriksa ulang arus peradaban manusia? Continue reading “Negeri Mitos”

Sastra Etnik di Tengah Budaya Global

I.B. Putera Manuaba
Kompas, 6 Sep 2015

Setiap bangsa di dunia terbangun dari etniknya masing-masing. Bangsa yang berada dalam satu dataran pasti berbeda dengan bangsa yang terpisah-pisah. Sebuah bangsa dalam satu dataran etniknya cenderung lebih tak beragam dibandingkan dengan negara kepulauan. Jika etnik beragam, bahasanya akan beragam juga, dan sastranya pun akan beragam. Dalam konteks inilah sastra etnik amat menarik. Continue reading “Sastra Etnik di Tengah Budaya Global”

Belajar Manusia Kepada Sastra

Untuk 50 tahun Majalah Horison, 26 Juli 2016

Emha Ainun Nadjib
caknun.com

Sastra Generasi Millenial

Sejak hampir dua dekade yang lalu lahir Generasi Millenial, juga dalam sastra. Kaum muda usia 18 sd 39-an tahun yang seakan-akan merupakan “putra langit”, bukan anak-anak yang dibesarkan oleh tata nilai kepengasuhan di bumi. Memang indikator kelahiran adalah semakin dominannya peradaban IT, Continue reading “Belajar Manusia Kepada Sastra”

Perihal Kritik Sastra

Yohanes Sehandi *
Majalah Kabar NTT (terbitan Kupang), edisi: 35, Sep 2017

Kritik sastra merupakan salah satu cabang ilmu sastra yang bersifat monodisiplin, di samping teori sastra dan sejarah sastra. Kritik sastra dimulai pada saat orang bertanya, apa makna, nilai, dan fungsi karya sastra yang dihadapinya. Istilah lain untuk kritik sastra adalah ulasan sastra, analisis sastra, telaah sastra, dan kajian sastra. Continue reading “Perihal Kritik Sastra”

Dimanakah Sastra Dunia?

Nirwan Dewanto *
islandsofimagination.id

Kurang lebih empat dasawarsa lalu, kritikus sastra H.B Jassin berkata bahwa sastra Indonesia adalah warga sastra dunia. Hari-hari ini tampaknya kita mesti berkata bahwa pernyataan Jassin itu benar dalam satu hal: sastra dunia itu milik kita, menjadi bagian dari kehidupan sastra Indonesia mutakhir. Apalagi di zaman “globalisasi” sekarang! Paling tidak, dengan “sastra dunia” itulah para sastrawan kita mempunyai ukuran baik-dan-buruk dalam mencipta dan menilai. Continue reading “Dimanakah Sastra Dunia?”

Bahasa »