Perihal Kritik Sastra

Yohanes Sehandi *
Majalah Kabar NTT (terbitan Kupang), edisi: 35, Sep 2017

Kritik sastra merupakan salah satu cabang ilmu sastra yang bersifat monodisiplin, di samping teori sastra dan sejarah sastra. Kritik sastra dimulai pada saat orang bertanya, apa makna, nilai, dan fungsi karya sastra yang dihadapinya. Istilah lain untuk kritik sastra adalah ulasan sastra, analisis sastra, telaah sastra, dan kajian sastra.

Secara etimologis, kata kritik (sastra) berasal dari krites (Yunani) yang berarti hakim. Kata krites (kata benda) berasal dari kata krinein (kata kerja) yang berarti menghakimi, membanding atau menimbang. Sedangkan kata kritikus berasal dari kata Latin klasik criticus artinya ahli kritik. Kata criticus mengandung nilai lebih tinggi daripada grammaticus (ahli tata bahasa) karena criticus juga berarti penafsir naskah dan penafsir kata-kata (ahli bahasa).

Apa itu kritik sastra? Rene Wellek dan Austin Warren dalam buku Teori Kesusastraan (1993) menyatakan, kritik sastra adalah pembicaraan tentang karya sastra tertentu. M.H. Abrams dalam Glossary of Literary Terms (1981) menyatakan, kritik sastra adalah cabang ilmu sastra yang berurusan dengan perumusan, klasifikasi, penerangan, dan penilaian terhadap karya sastra. H.B. Jassin (1917-2000) dalam Tifa Penyair dan Daerahnya (1983) menyatakan, kritik sastra adalah penilaian baik buruknya suatu hasil kesusastraan dengan memberikan alasan-alasan mengenai isi dan bentuknya. Andre Hardjana dalam Kritik Sastra: Sebuah Pengantar (1981) merumuskan pengertian kritik sastra sebagai hasil usaha pembaca dalam mencari dan menentukan nilai hakiki karya sastra lewat pemahaman dan penafsiran sistematik yang dinyatakan dalam bentuk tertulis.

Kalau kita cermati rumusan pengertian kritik sastra yang dikemukakan para ilmuwan sastra di atas maka ketahuilah bahwa kritik sastra itu sebuah bidang ilmu, cabang dari ilmu sastra. Kritik sastra itu berusaha menyelami isi dan bentuk sebuah karya sastra untuk mendapatkan makna, nilai, dan fungsi karya sastra tersebut. Upaya yang dilakukan adalah dengan cara menggambarkan (deskripsi), menafsirkan (interpretasi), dan menilai (evaluasi) karya sastra yang dihadapi. Jadi, kritik sastra adalah upaya menggambarkan, menafsirkan, dan mengevaluasi bentuk dan isi karya sastra guna mendapatkan makna, nilai, dan fungsinya.

Kritik sastra tentu berlandaskan akal sehat dan rumusan konseptual sesuai dengan perkembangan ilmu kritik sastra. Untuk dapat menghasilkan kritik sastra yang baik, seorang kritikus perlu memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra, pengalaman dalam mengulas, menganalisis, dan meneliti karya-karya sastra, serta penguasaan terhadap teori kritik sastra. Di samping itu, seorang kritikus sastra perlu pula memiliki bekal pengetahuan dan wawasan yang cukup luas, baik yang bersifat literer (berkaitan dengan sastra) maupun yang nonliterer (berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan pada umumnya).

Apa yang dilakukan kritikus dalam melakukan praktik kritik sastra? Pertama, kritikus memperkenalkan karya sastra secara garis besar, misalnya tentang data publikasi karya itu, posisi pengarang, gambaran tentang bentuk dan isi karya tersebut secara garis besar. Kedua, kritikus melakukan penafsiran sekaligus analisis terhadap bentuk dan isi karya sastra tersebut. Penafsiran dan analisis bisa saling melengkapi. Kadangkala penafsiran mendahului analisis, kadangkala pula analisis mendahului penafsiran. Tahapan penafsiran dan analisis merupakan bagian penting dalam sebuah praktik kritik sastra. Ketiga, kritikus memberikan penilaian atas keunggulan dan kelemahan karya sastra yang dihadapinya. Penilaian harus proporsional. Jangan sampai berat sebelah hanya karena faktor subjektif semata. Tentu saja seorang kritikus tidak perlu memaksakan diri untuk menilai unggul sebuah karya kalau karyanya memang tidak unggul. Demikianpun sebaliknya, menilai serba kurang atas sebuah karya padahal karya sastra itu ada keunggulannya juga.

Menurut kritikus sastra Indonesia Maman S. Mahayana dalam bukunya Kitab Kritik Sastra (2015: xliii-xliv), karya-karya agung tanpa penilaian sekalipun akan tetap tampak keagungannnya berasarkan penafsiran dan analisis kritikusnya. Oleh karena itu, ada sebagian kritikus yang beranggapan bahwa penilaian tidak diperlukan lagi dalam praktik kritik sastra, sebab dari kedalaman penafsiran dan analisis itu saja sudah akan tanpak keunggulan atau kelebihan karya sastra tersebut.

Namun demikian, lanjut Mahayana, ada juga sebagian kritikus yang memandang bahwa hakikat kritik sastra tidak lain adalah penilaian. Oleh karen itu, praktik kritik sastra mesti memuat secara eksplisit perkara penilaian. Pandangan itu juga didasarkan pada anggapan bahwa praktik kritik sastra dimulai dan diakhiri dengan penilaian. Jadi, apa gunanya praktik kritik sastra jika tidak ada penilaian. Begitulah kritikus yang berpegang pada anggapan tersebut menempatkan penilaian sebagai hal penting dalam praktik kritik sastra.

Dalam melakukan deskripsi, interpretasi, dan evaluasi atas sebuah karya sastra, seorang kritikus tidak bisa bertindak semaunya. Dalam mengemukakan kritiknya, seorang kritikus melewati suatu proses penghayatan keindahan yang hampir serupa dengan proses penghayatan seorang pengarang dalam menciptakan karya sastra. Perbedaan dari dua penghayatan itu terletak pada pangkal tolak dan titik akhirnya. Pangkal tolak seorang pengarang adalah penghayatan dan persepsinya terhadap realitas fakta ke dalam realitas fiksi yang menghasilkan karya sastra sebagai titik akhirnya. Sedangkan pangkal tolak seorang kritikus adalah penghayatan dan persepsinya terhadap karya sastra yang dihadapinya yang kemudian menghasilkan sebuah karya kritik sastra sebagai titik akhirnya.

Penghayatan keindahan seorang kritikus sastra bermula dari pengamatan dan pencernaan jiwanya atas suatu karya sastra. Setelah mengalami proses penghayatan keindahan itu, seorang kritikus merasa menemukan makna dan nilai, namun tidak menciptakan makna dan nilai. Proses penghayatan makna dan nilai itu tidak lain adalah proses penghayatan atau pengalaman estetik. Hasil dari penghayatan estetik atas sebuah karya sastra itulah yang disebut kritik sastra. Penghayatan estetik ini tidak selalu mudah karena suatu karya sastra yang diciptakan untuk semua orang seringkali tidak dapat diresapi oleh setiap orang. Apabila hal tersebut terjadi, menurut Andre Hardjana dalam bukunya Kritik Sastra: Sebuah Pengantar (1981: 16), ada dua kemungkinan, yakni pembacanya tertutup untuk menyerap sastra yang halus dan tinggi, atau karya sastra itu tidak cukup kuat untuk menggerakkan hati dan minat penikmat atau pembaca sastra.

Dalam kritik sastra, ada tiga jenis penilaian, yaitu penilaian absolut, penilaian relatif, dan penilaian perspektif. Penilaian absolut dipengaruhi paham positivisme ketika perkembangan ilmu pengetahuan alam menggiring penilaian pada sastra yang menghasilkan penilaian benar atau salah serta baik atau buruk terhadap sebuah karya sastra. Penilaian relatif didasarkan pada impresi (kesan) kritikus terhadap karya sastra, sepuluh kritikus bisa jadi akan menghasilkan sepuluh penilaian. Adapun penilaian perspektif menekankan pada berbagai kemungkinan lain ketika satu pendekatan dengan teori tertentu tidak sesuai dengan unsur intrinsik karya sastra tersebut. Melalui penilaian perspektif inilah kekayaan teks digali dan diungkapkan. Dari situlah pendekatan baru ditawarkan, teori baru dapat dirumuskan.

Pemikiran tentang kritik sastra berkisar seputar bagaimana kritik sastra menjalankan fungsinya, pendekatannya, dan mengembangkan teori kritik sastra (theoretical criticism) yang representatif. Muaranya berkutat pada tiga bidang kegiatan ilmu sastra, meliputi teori sastra (literary theory), sejarah sastra (literary history), dan kritik sastra (literary criticism). Objek kajian kritik sastra adalah karya sastra. Penting dipahami, hakikat kritik sastra adalah evaluasi dan penilaian terhadap karya sastra, di dalamnya melekat pula apresiasi terhadap sastra. Jadi, bukan perkara pujian (hujatan), melainkan elusidasi (penguraian) dan eksplanasi (keterangan) yang meliputi deskripsi, interpretasi, evaluasi terhadap karya sastra.

Buku tentang kritik yang pertama dan lengkap yang kemudian dipandang sebagai sumber dari pengertian kritik sastra modern di tingkat dunia berjudul Criticus karya Julius Caesar Scalinger (1484-1558). Buku ini merupakan jilid ke-6 dari rangkaian bukunya yang berjudul Poetica. Dalam buku tersebut Scalinger mengadakan penyelidikan dan perbandingan antara pujangga-pujangga Yunani dan Latin dengan titik berat pada usaha pertimbangan, penyejajaran, dan penghakiman terhadap Homerus guna mengagungkan Vergillius. Berkat usahanya yang luar biasa itu, ia mendapatkan julukan sebagai kritikus besar di kalangan sastrawan Perancis (Hardjana, 1981: 3).

Menyangkut tradisi kritik sastra di Indonesia, kritikus Maman S. Mahayana dalam buku Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam (2017: xv) menyatakan bahwa sastra Indonesia sejak awal mempunyai tradisi kritik sastra. Kritik sastra Indonesia tidak mengadopsi dari Barat. Lebih lanjut Mahayana menyatakan bahwa istilah kritik sastra (criticism) itu sendiri awalnya diperkenalkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dalam artikelnya berjudul “Menoedjoe Kesoesasteraan Baroe” yang dimuat dalam rubrik “Memadjoekan Kesoesasteraan” (Pandji Posetaka, Mei 1932). Di sini STA menjelaskan ciri-ciri puisi baru, syair, kiasan, dan ibarat, berikut ulasannya. Sejak itulah istilah kritik sastra banyak digunakan untuk menunjuk sebuah tulisan (esai atau artikel di media massa) yang membicarakan (karya) sastra sebagai kritik sastra.

Selanjutnya, pada tahun 1930-an lewat majalah Pujangga Baru yang dipimpin Sutan Takdir Alisjabana (STA), tradisi kritik sastra mulai bertumbuh dan terus berkembang. Kritikus sastra pun mulai bermunculan. Dan kritikus sastra Indonesia yang paling menonjol dalam perkembangan selanjutnya adalah H. B. Jassin (1917-2000). Kedudukan kritik sastra dalam sastra Indonesia menjadi kokoh setelah H. B. Jassin menerbitkan bukunya yang sangat terkenal dengan judul Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai (1945) yang kemudian dikembangkan dan diperluas wilayahnya hingga mencapai empat jilid buku. Buku-buku kritik sastra H. B. Jassin inilah kemudian menjadi acuan dan model kritik sastra selanjutnya. Kritikus sastra Indonesia lain adalah A. Teeuw, M.S. Hutagalung, Umar Junus, Dami N. Toda, Jakob Sumardjo, Ignas Kleden, Maman S. Mahayana, dan lain-lain. *

*) Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende
https://yohanessehandi.blogspot.co.id/2017/09/perihal-kritik-sastra.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*