Sulitnya Bahasa Indonesia

Agus R. Sarjono
Majalah Tempo, 24 Mei 2010

Setiap orang asing yang pernah tinggal di Indonesia dengan cepat akan dapat bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Di Bonn, Jerman, para mahasiswa semester awal di jurusan bahasa Indonesia selalu bikin cemburu mahasiswa jurusan bahasa Cina, Arab, dan Jepang. Sebab, saat mereka masih terbata, para mahasiswa jurusan bahasa Indonesia sudah mulai pandai bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Namun, begitu mereka lulus dan makin memperdalam bahasa Indonesia, tahulah mereka betapa peliknya bahasa ini. Continue reading “Sulitnya Bahasa Indonesia”

Kehilangan Kata-kata

Marco Kusumawijaya *
Majalah Tempo 13 Apr 2009

Yang saya maksud bukan kehabisan kata-kata, melainkan benar-benar terancam hilangnya kata-kata bahasa Indonesia. Setidaknya ada dua ancaman, ialah hilangnya realitas yang diacu oleh kata, dan hilangnya makna dalam penerjemahan yang tidak memadai—lost in translation. Semuanya berdampak pada berkurangnya ke bhinekaan. Continue reading “Kehilangan Kata-kata”

Berthold Damshäuser: Wisata Intelektual Seorang Indonesianis

Jamal D. Rahman
https://jamaldrahman.wordpress.com

“Ada banyak kesungguhan dalam main-main, dan banyak main-main dalam kesungguhan.”
(Berthold Damshäuser)

Di tahun 2011, seusai mengikuti acara Jakarta-Berlin Arts Festival yang diprakarsai penyair Jerman Martin Jankowski di Berlin, kami melakukan perjalanan darat selama 8 jam dari Berlin ke Bonn, Jerman. Kami berempat: Berthold Damshäuser, Mbak Dian Apsari (istrinya), Joni Ariadinata, dan saya sendiri. Continue reading “Berthold Damshäuser: Wisata Intelektual Seorang Indonesianis”

Literasi

Berthold Damshauser *
Majalah Tempo, 26 Des 2016

Sebuah kata baru telah lahir dalam tubuh bahasa Indonesia, bernama literasi. Sulit untuk memastikan tahun kelahirannya, juga siapa yang melahirkannya. Sepertinya ia balita, atau—paling sedikit—masih kanak-kanak. Kata ini belum tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online. Di kalangan yang merasa terdidik, kata literasi sangat populer dan diucapkan terus-menerus, tidak hanya oleh kalangan ilmiah, tapi juga oleh mereka yang mengurus perihal kesusastraan, termasuk sastrawan sendiri. Kata itu dilekatkan pada kegiatan akademis dan sastra yang bertemakan—misalnya—”budaya literasi” atau “pesta literasi”. Continue reading “Literasi”

Bahasa »