Merah yang Bukan Kirmizi

Anton Kurnia *
Majalah Tempo, 10 Feb 2014

Dalam kata-kata Orhan Pamuk, novelis Turki pemenang Nobel Sastra 2006, melalui narator si warna merah dalam adikaryanya Benim Adim Kirmizi (1998) atau My Name Is Red, “Warna adalah sentuhan mata, musik bagi mereka yang tuli, sepatah kata yang dilahirkan kegelapan.”

Novel yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Atta Verin sebagai Namaku Merah Kirmizi (2006) ini menyatakan warna sebagai “kata yang dilahirkan kegelapan” dan tentu membutuhkan cara membedakan warna yang spesifik dan deskripsi yang akurat agar tak terjadi kekeliruan satu dengan yang lain, misalnya antara merah dan jambon.

Namun bahasa Indonesia memiliki kosakata warna yang amat terbatas jika dibandingkan dengan kosakata warna lebih rinci dari khazanah bahasa asing. Persoalan itu amat terasa, misalnya, dalam kerja penerjemahan teks sastra.

Salah satu jalan pintas adalah menyerap kata-kata asing. Kata “kirmizi” untuk judul terjemahan novel Pamuk ini diserap dari bahasa Arab (yang juga dicomot ke dalam bahasa Turki) untuk menamai warna merah gelap (serupa darah kering) sebagai padanan crimson (merah kelam dengan bias keunguan) dalam bahasa Inggris, demi membedakannya dengan vermillion (merah cerah berbias jingga), merah kesumba, merah marun, atau sekadar red (merah) yang bukan merah kirmizi. Kata crimson, menurut kamus digital Microsoft Encarta, ternyata diturunkan dari kata Spanyol, cremesin, yang diadaptasi dari kirmizi itu tadi sekitar abad ke-15, saat orang-orang muslim dari Jazirah Arabia (kaum “Moor”) menguasai Andalusia. Sedangkan vermillion diserap dari kata Prancis.

Kita menggunakan kata serapan dari bahasa Persia, “lazuardi” (sudah terkodifikasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia), untuk warna biru terang serupa langit cerah atau permata yang sepadan dengan istilah lapis lazuli dalam bahasa Inggris. Kata itu antara lain muncul dalam terjemahan novel Pamuk lainnya ke bahasa Indonesia, Di Balik Keheningan Salju (terjemahan Berliani Nugrahani, 2008). Selain itu, kita bisa jadi lebih akrab dengan kata “indigo” ketimbang “nila” untuk menyebut warna biru keunguan walaupun kita hafal rumus me-ji-ku-hi-bi-ni-u (merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu) dalam spektrum warna saat pelajaran fisika pada masa lampau dan kerap membaca peribahasa klise “Karena nila setitik rusaklah susu sebelanga”.

Namun punyakah kita padanan atau kata serapan baku dalam bahasa Indonesia untuk warna beige, peach, dan ­burgundy?

Jika sudah kepepet, kita terpaksa membuat improvisasi darurat dengan membentuk istilah agak abstrak semacam “cokelat pucat” atau “cokelat muda semu kuning” untuk beige, “jingga kekuningan” untuk peach, atau “merah keunguan” untuk burgundy. Terkadang kita gunakan pula pemerian asosiatif semacam “biru laut”, “hijau zamrud”, atau “merah bata”. Kang Yayan, tukang bangunan profesional yang melabur dinding rumah kami, punya istilah yang menurut saya amat kreatif untuk membedakan beragam warna putih: “putih laguna” untuk menyebut cat putih bernuansa kebiruan di dinding dapur dan “putih apel” untuk menamai warna putih semu hijau di kamar tidur.

Serupa Orhan Pamuk, sang “pelukis gagal” yang banting setir menjadi penulis seperti diakuinya dalam memoar unik Istanbul: Kenangan Sebuah Kota (terjemahan Rahmani Astuti, 2009), yang akrab dengan alegori warna sebagai unsur penting dalam karya-karyanya (terutama dalam dua novel yang sudah disebut di muka dan Kara Kitap alias Buku Hitam), tak sedikit pengarang Indonesia yang menggunakan warna sebagai elemen simbolis yang dianggap perlu disebut secara khusus. Tengoklah judul-judul ini: Surat Kertas Hijau (Sitor Situmorang), Merahnya Merah dan “Lebih Hitam dari Hitam” (Iwan Simatupang), Cintaku di Kampus Biru (Ashadi Siregar), Kerudung Merah Kirmizi (Remy Sylado), serta “Dalam Hujan Hijau Friedenau” (Triyanto Triwikromo).

Namun, sesungguhnya, ada beragam warna dari khazanah budaya kita sendiri yang jarang digunakan dan potensial diberdayakan dalam karya sastra kita.

Contohnya kata “saga” untuk merah menyala serupa biji sejenis pohon berkhasiat obat (bernama Latin Adenanthera pavonina) dan “soga” untuk cokelat kekuningan serupa warna kain batik klasik yang pulasannya berasal dari pepagan tumbuhan bernama sama (aran Latinnya Peltophorum pterocarpum). Ada pula pasangan baku kata majemuk untuk mencandra warna yang kini mungkin terasa arkaik semisal “putih metah” atau “biru nirmala”, terutama jika itu diperbandingkan dengan pasangan kata semakna yang kurang mengesankan, tapi kerap diulang sehingga terasa membosankan, semacam “putih bersih” atau “biru cerah”.

Jika warna adalah “kata” (penamaan) yang dilahirkan dari “kegelapan” (ketiadaan) seperti yang dikemukakan Pamuk, ia niscaya memiliki makna penting sebagai elemen dalam teks sastra yang layak dieksplorasi lebih dalam dan secara lebih kreatif oleh para sastrawan kita sebagai garda depan pencipta bahasa-juga oleh para pengulik bahasa lainnya: penerjemah, penyunting, pengajar.

Dan saya percaya, dalam hal ini arena penjelajahan itu masih terbentang amat luas.

*) Penulis, penerjemah, dan editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*