Bulang Cahaya Sembilu Cinta

Abdul Kadir Ibrahim
Riau Pos, 22 April 2012

Tajak Kalam

SELEPAS berlalunya Kerajaan Bintan dengan Raja Wan Sri Benai, beratus tahun lamanya, berdirilah Kerajaan Johor. Semakin ke hadapan, ianya dibukalah Ulu Sungai Carang, Pulau Bintan oleh Sultan Johor, Raja Ibrahim dengan gelar Sultan Ibrahim Syah I, yang dibantu Temenggung Tun Abdul Jamil, sebagai tapak baru, sekira dalam tahun 1673. Continue reading “Bulang Cahaya Sembilu Cinta”

Surat kepada Maridjan

Syaukani Al Karim *
Riau Pos, 15 April 2012

AKU merasa kita pernah bertemu suatu ketika, meski Tuan akan mengatakan tidak. Waktu itu tahun 1938, dan Tuan berusia 33 tahun. Di atas podium, Tuan, sebagai wakil ketua Partai Syarikat Islam Hindia Belanda, yang kemudian disebut Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dengan bersemangat menjelaskan konsep ‘’hijrah” kepada peserta kongres ke-22 di Surabaya. Continue reading “Surat kepada Maridjan”

Memaknai Arti Kamus

Agus Sri Wardana *
Riau Pos, 15 April 2012

SEBAGAI sarana/alat berpikir, berekspresi, dan berkomunikasi, bahasa senantiasa berkembang sejalan dengan laju perkembangan peradaban masyarakat pendukungnya. Perkembangan bahasa itu, antara lain, dapat dilihat pada pertambahan kosa-katanya dari waktu ke waktu. Bahasa Indonesia/Melayu, misalnya, pada permulaan abad ke-15 tercatat hanya memiliki 500 lema (dalam Daftar Kata Cina-Melayu). Continue reading “Memaknai Arti Kamus”

Tidak Ada Sastra Religius

Ribut Wijoto

Ada satu konsepsi tema dalam perbincangan sastra—sebuah kerja nyaris sia-sia: religiusitas sastra. Sejak jaman Hamzah Fansuri, Balai Pustaka, tahun 1970-an, hingga sekarang; diselenggarakan diskusi atau tulisan lepas yang menekankan adanya religiusitas dalam karya sastra. Dipelopori Abdul Hadi WM, aliran sastra sufi pun muncul. Mengapa konsepsi tema religi rekat pada perbincangan sastra? Apakah kontribusinya bagi tradisi sastra? Continue reading “Tidak Ada Sastra Religius”

Tanahku, Hutanku, Kuburanku

Muhammad Ainun Nadjib
Kompas, 8 Agus 2009

Rencananya, sesudah diskusi ulang tahun ke-52 Lembaga Administrasi Nasional, 4 Agustus pagi itu, saya janji langsung ke Rumah Sakit Mitra Keluarga untuk turut mengantarkan Rendra pulang ke rumah Clara Shinta, putrinya, di Pesona Khayangan, Depok. Namun, tiba-tiba Mbah Surip dipanggil Tuhan sehingga seusai diskusi, saya dengan beberapa teman Kenduri Cinta langsung menuju rumah Mamiek Slamet di Kampung Makassar, tempat pertama jenazah beliau disemayamkan. Continue reading “Tanahku, Hutanku, Kuburanku”

Bahasa »