Memaknai Hari Kartini

Asrudin
http://www.suarakarya-online.com/

“Kamu tahu motto hidupku? ‘Aku mau’. Dua kata sederhana ini telah membawaku melewati gemunung kesulitan. ‘Aku tidak mampu’ berarti menyerah. ‘Aku mau!’ mendaki gunung itu.”

Demikian Kartini mengatakan hal itu pada Stella Zeehandelaar (seorang perempuan Belanda) dalam suratnya pada 23 Agustus 1900. Motto ‘aku mau’ bukan tanpa makna. ‘Aku mau’ menunjukkan keinginan keras Kartini untuk merubah situasi dan kondisi Indonesia yang saat itu terbilang cukup memprihatinkan: marjinalisasi terhadap perempuan dan kondisi kolonialisme. Continue reading “Memaknai Hari Kartini”

Perempuan dan Ideologi Familialisme

Siti Muyassarotul Hafidzoh
http://www.suarakarya-online.com/

Peran kaum perempuan masih berada di pinggir peradaban. Kisah-kisah dan gerak-geriknya masih dipandang sebelah dalam sejarah peradaban dunia. Kooptasi kaum lelaki masih begitu tinggi, sehingga gerak perempuan terus dimonitoring setiap waktu. Melangkah selalu dibatasi ruas tradisi yang salah kaprah serta doktrin agama yang ditafsir dengan sepihak dan tendensius. Perempuan akhirnya hanya bisa berkilah dalam setiap geraknya, mencari posisi pinggir, dan terus terkebiri dalam babakan sosial yang dijalani. Continue reading “Perempuan dan Ideologi Familialisme”

Perempuan dan Kuasa Kecantikan

Muslim Basyar *
http://www.lampungpost.com/

“Perempuan cantik akan luntur kecantikannya manakala ia membuka mulutnya dan ketahuan otaknya tolol!” (Mira Sato, Manusia Kamar, dalam Riwayat Negeri yang Haru; Cerpen Kompas Terpilih 1981-1990, Kompas, 2006)

PEREMPUAN dan kecantikan bagaikan dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Bahkan lebih dari itu, cantik telah menjadi kemutlakan untuk memberi makna pada sosok perempuan ketimbang kecerdasannya. Continue reading “Perempuan dan Kuasa Kecantikan”

Tentang Seniman Kaya

Mathori A Elwa
http://teraspolitik.com/

Pada tulisan saya sebelumnya, “Tentang Seniman Miskin”, Kamis (8/3/2012), saya menjelaskan duduk perkara hubungan antara seniman dengan kekayaan (material) atau sebutlah itu penghasilan uang.

Ada yang sepakat, ada yang tidak. Hal itu sudah saya sadari dan saya pahami sebelumnya. Bagi saya yang terpenting adalah menyampaikan pendapat itu secara obyektif. Adapun jika ada yang tersinggung, saya sekali lagi, maaf lahir-batin. Continue reading “Tentang Seniman Kaya”

Pencerahan Estetik Sastra Internet

Ribut Wijoto

Apakah arti media bagi sastra. Sepintas lalu, media bukan penentu signifikan. Nur St. Iskandar menyebutkan, pendirian Balai Pustaka atau Volkslektuur (1908) yang menghadirkan majalah kebudayaan dengan rubrik sastra memunculkan tradisi sastra modern di tanah air. Majalah Pujangga Baru diterbitkan, sastra Indonesia pun memasuki estetika yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Dua tulisan Armin Pane, berjudul “Kesusastraan Baru” (1933), merupakan pembuktian otentik. Continue reading “Pencerahan Estetik Sastra Internet”

Bahasa »