Jurnal Kembang Kemuning: Menumbuh-Kembangkan Sastra Buruh Migran

JJ. Kusni

Komunitas Perantau Nusantara [KPN] Hong Kong, yang kalau tidak salah, anggota-anggotanya terutama terdiri dari Tenaga Kerja Wanita [TKW] dalam surat siarannya di milis buruh-migran@yahoogroups.com [05 Maret 2005] dalam rangka memperingati Hari Kartini 21 April mendatang bermaksud menyelenggarakan lomba menulis puisi di kalangan buruh migran Indonesia. Surat siaran KPN itu menunjukkan bahwa “Tujuan utama yang hendak dicapai melalui lomba ini adalah :1) Continue reading “Jurnal Kembang Kemuning: Menumbuh-Kembangkan Sastra Buruh Migran”

Afrizal Sang Religius

Asarpin

Dalam sebuah esai yang sangat biografis, Afrizal Malna pernah menulis sebuah sajak doa yang sangat otentik: ”Ya, Allah. Sepuluh tahun lebih aku hidup tanpa Engkau. Kini aku kembali padaMu bukan karena aku kalah. Bukan karena aku melarikan diri padaMu. Tak ada pikiran dari orang mana pun yang mampu mengembalikan aku padaMu setelah selama sepuluh tahun lebih ini. Continue reading “Afrizal Sang Religius”

Membaca Katarsis karya “HADI NAPSTER”

Epilog “KATARSIS” Karya Hadi Napster
Imron Tohari

Ketidaksempurnaan dan kerusakan, yang terlihat di mana pun,
semuanya adalah cerminan keindahan.
Pengatur tulang, di manakah dia dapat mencoba ketrampilannya
kalau bukan pada persendian yang patah? Penjahit di mana?
Tentunya bukan pada busana siap yang indah potongannya.
Bila tiada tembaga kasar ditempat peleburan,
bagaimana ahli kimia dapat mempertunjukan keahliannya? (Jalaluddin Rumi) Continue reading “Membaca Katarsis karya “HADI NAPSTER””

Sistem Korup yang Terwariskan

Muhammad Subarkah
Republika, 11 Juli 2011

Keborokan mental dan sistem administrasi pegawai VOC terus terwariskan hingga sekarang.

“Apa yang kini bisa menjadi bukti bahwa Indonesia pernah dijajah Belanda?” Untuk menjawab pertanyaan ini memang mudah bila hanya dengan melihat sederet data angka tahun dalam buku sejarah. Bung Karno dahulu pernah berkata bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun. Continue reading “Sistem Korup yang Terwariskan”

Bahasa »