Afrizal Sang Religius

Asarpin

Dalam sebuah esai yang sangat biografis, Afrizal Malna pernah menulis sebuah sajak doa yang sangat otentik: ”Ya, Allah. Sepuluh tahun lebih aku hidup tanpa Engkau. Kini aku kembali padaMu bukan karena aku kalah. Bukan karena aku melarikan diri padaMu. Tak ada pikiran dari orang mana pun yang mampu mengembalikan aku padaMu setelah selama sepuluh tahun lebih ini. Cintalah yang telah mengantarkan aku kembali padaMu melalui seorang wanita yang kini sedang bersimpah berdoa di sampingku. Berilah wanita ini cahaya dari cintaMu. Aku bangga telah kembali padamu tidak melalui pikiran, tetapi melalui cinta. Kini biarlah aku mengenal Engkau hanya melalui cinta saja”.

Gelora religiusitas melalui cinta dan persahabatan, entah cinta dan persahabatan antara Tuhan dan manusia, muncul dalam ekspresi yang menyembul dari pena kejujuran yang paling pribadi. Barangkali inilah sejenis impian seorang sufi yang rindu Tuhan, seperti dilukiskan Afrizal dalam sajak ”Pelayaran Tuhan” (1982): ”Dalam orang tak bertuhan dalam orang tak bertuhan/aku berlayar dalam tubuh tubuh sepi/terdaging di puncak puncak kediaman hening/mengeras dalam hujan hujan panjang/O, tuhan berlaut dalam keheningan nisu/pada kapal kapal kaku/bisik bisik menjauh/kata yang mengeras dalam makna/aku mengental dalam tarian sinarmu/mabok lautanmu-samudra diri/melaju/melaju kaku/ke kota kota sepi/semua tak bicara dalam sujud abadi:/diri yang terusir darimu/jadi laut tak bertepi”.

Lewat pelayaran menuju kehadirat Tuhan, Afrizal hendak mengantarkan kita ke dalam keintiman pencarian dengan cara mengisi kepenuhan martabat kita sebagai manusia yang fana. Namun, ketika pencarian dan penghayatan tentang Sang Kekasih kembali membentur dinding yang tak mampu ditembusnya, ia kembali kepada keluhuran manusia. Tatkala kebebasan mulai membelenggu kemerdekaan dan kreativitas, maka yang muncul dalam gaung sajak-sajak Afrizal adalah: “Aku hidup tanpa Tuhan, tapi aku tak pernah mampu menolak-Nya, karena aku sama sekali tidak menemukan alasan berarti untuk menolaknya”.

Adakah itu sikap yang rendah hati? Sadar-diri? Entahlah. Yang jelas, jika para sastrawan lain masih terus menyibukkan diri dengan masalah tentang Ada dan Tuhan, sembari menutup mata terhadap luka-besar kemanusiaan, maka setelah buku Abad yang Berlari, Afrizal berpaling ke mitos keluhuran manusia. Afrizal mulai “mempersembahkan” karyanya kepada manusia, bukan lagi kepada Tuhan sebagaimana dalam buku-buku teologi puisi. Dan sikap ini lebih cocok bila dinamakan sebagai penghargaan terhadap sikap luhur manusia dan kemanusiaan, bukan pendewaan terhadap manusia.

Lalu, seturut dengan pandangan atas manusia dan kemanusian itu, karya-karya Afrizal telah bergeser jauh dari pujian yang ditujukan pada Tuhan ke pujian kepada manusia. Namun tidak setiap manusia disapanya. Para Raja dan Sultan bukanlah manusia yang dimaksudkan dalam frase “hiduplah orang-orang lain bersama kita”.

Kalau pun ada kehadiran Raja dan Sultan dalam puisi dan prosanya, maka Raja dan Sultan itu justru bertubi-tubi digugatnya, seperti gugatan para pelukis dalam novel Namaku Merah Kirmizi karya Orhan Pamuk—peraih Nobel Sastra 2006—di mana Sultan dilukiskan sebagai yang tak pernah menyerah untuk menjinakkan para pelukis, baik melalui kekerasan fisik maupun dengan cara hegemoni kultural. Namun pada saat yang sama, para pelukis berbalik menggugat sang Sultan.

Pada momen ini, tak berlebihan jika Afrizal disebut penyair yang amat akrab dengan pengucapan manusia. Hasrat menggebu menampilkan manusia dalam sebagian besar karyanya memang mengingatkan kita pada semangat manusia eksistensial dalam lakon Pintu Tertutup (judul asli: Huis-clos) Jean-Paul Sartre. Afrizal dengan intens bicara tentang kemerdekaan tanpa ikatan hukum; sebuah manusia informal yang eksis di luar hukum. ”Kita lihat Sartre malam itu, lewat ’Pintu ’Tertutup’: menawarkan manusia mati dalam sejarah orang lain”, tulis Afrizal dalam puisi Migrasi Dari Kamar Mandi (1993).

Seperti drama Pintu Tertutup, setiap tokoh terkurung dalam dirinya sendiri, tertutup bagi yang lain. Sebetulnya ia ingin membuka diri dan berkomunikasi dengan yang lain, tetapi tiap kali ia terbentur pada pintu-pintu tertutup. Dan ini menimbulkan perasaan kesia-siaan, hampa, yang menjadikan hidup ini semacam neraka. Maka Sartre bilang: neraka adalah orang-orang lain.

Nah, jika eksistensialis Sartre adalah absurd, iseng, di mana kontak dan dialog dengan orang-orang lain tak mungkin, Afrizal justru masih mendambakan komunikasi dengan orang-orang lain. Ungkapan ”Hiduplah orang-orang lain bersama kita” yang terkenal itu, menjadi semacam kebalikan dari ungkapan Sartre.

Afrizal bukan pula seperti para prajurit Jepang di medan laga yang mengirim sajak-sajak haiku kepada Kaisar sambil mengatakan: “Demi Kaisar, kami tak rela mati di rumah!” Penyair kita ini tidak hendak memberi empati bagi si rudin dan yang Lain di sekitarnya. Ketika ”hiduplah orang-orang lain bersama kita” mulai menemukan wujudnya, maka semangat yang tampil bukan pemujaan kepada manusia, melainkan sejenis kuasa-perjuangan.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/