Tidak Masalahkan kalau Petani?

M.D. Atmaja

Menjalani hidup di zaman modern, dihadapkan pada permasalahan yang begitu pelik. Menemukan tidak hanya satu, namun lebih banyak lagi kompleksitas yang harus dipahami untuk membuat suatu keputusan tertentu. Karena kondisi yang akhirnya menjadi super pelik itu, saya musti berhati-hati dalam mengambil langkah. Menimbang setiap persoalan yang ada untuk menimbang – tidak sekedar mengenai untung dan rugi, lebih jauh lagi menyangkut pengumpulan modal untuk perjalanan hidup selanjutnya. Continue reading “Tidak Masalahkan kalau Petani?”

Irshad Manji: Idola Kaum Liberal!

Adian Husaini
http://pemikiranislam.multiply.com/

assalaamu’alaikum wr. wb.

Sejumlah orang yang akan berdialog dengan kaum liberal saya beri saran agar jangan pakai dalil ayat-ayat Al-Qur’an. Sebab, banyak kaum liberal yang sudah tidak percaya lagi pada keotentikan Al-Qur’an, sehingga tidak ada gunanya dalil Al-Qur’an untuk mereka. Memang ada diantara mereka yang masih percaya Al-Qur’an sebagai wahyu Allah, tetapi banyak pula diantara mereka yang memiliki pandangan dan penafsiran yang berbeda. Continue reading “Irshad Manji: Idola Kaum Liberal!”

Bangsa jadi Bangsat!

Asarpin

Saya baru tahu kalau tiga proyek yang terdapat dalam teks Sumpah Pemuda 1928 itu terdapat tiga tingkatan nasionalisme: nasionalisme bangsa, nasionalisme tanah air dan nasionalisme bahasa. Di sana terjawab sudah persoalan mendasar: apakah mungkin terbentuknya suatu bangsa, maka jawabnya sangat mungkin dibentuk bangsa itu. Kalau pertanyaannya apakah tanah air diingini maka para pemuda menjawab bahwa satu nusa itu diingini. Kalau pertanyaannya apakah satu bahasa nasional itu diperlukan, jawabannya memang diperlukan. Continue reading “Bangsa jadi Bangsat!”

Cinta + Sastra = Infinitif

(Serapan dari energi pengajian Padhang mBulan 19 Maret 2011)
Sabrank Suparno

Cinta. Kasih. Sayang. Apa beda di antara ketiganya. Cinta: jaringan empati dengan hal lain yang kita butuh kemanfaatan balik darinya. Kasih: bagian reaksi cinta yang bergerak aktif keluar, output, memberi kemanfaatan pada hal lain yang berupa benda, realitas lahiriyah. Sayang: bagian dari susunan cinta yang bergerak aktif ke suatu hal yang berupa sikap jiwa, rasa batin. Continue reading “Cinta + Sastra = Infinitif”

Perempuan dalam Cerita “Anak Durhaka” di Riau

Yulita Fitriana
Riau Pos, 27 Maret 2011

CERITA Malin Kundang dikenal sebagai ikon cerita anak durhaka di Indonesia. Selain cerita tersebut, sebenarnya masih banyak cerita anak durhaka lainnya, seperti cerita “Batu Belah Batu Bertangkup” yang cukup dikenal karena cerita tersebut juga ada di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Aceh, Riau, Kepualuan Riau, Sumatera Selatan, bahkan cerita ini juga ada di Malaysia dan Brunai. Di Riau didapati cerita “Si Lancang”, “Si Umbut Muda”, “Rawang Tekuluak”, “Legenda Pulau Halang”, dan sebagainya. Continue reading “Perempuan dalam Cerita “Anak Durhaka” di Riau”

Bahasa »