Cinta + Sastra = Infinitif

(Serapan dari energi pengajian Padhang mBulan 19 Maret 2011)
Sabrank Suparno

Cinta. Kasih. Sayang. Apa beda di antara ketiganya. Cinta: jaringan empati dengan hal lain yang kita butuh kemanfaatan balik darinya. Kasih: bagian reaksi cinta yang bergerak aktif keluar, output, memberi kemanfaatan pada hal lain yang berupa benda, realitas lahiriyah. Sayang: bagian dari susunan cinta yang bergerak aktif ke suatu hal yang berupa sikap jiwa, rasa batin. Dalam skala global, cinta adalah seluruh perangkat kehidupan sejak berada di alam ruh, kemudian ‘hidup’(eksistensialis), hingga kematian dan seterusnya sampai neraka dan surga dan bertemu Tuhan kembali. Perangkat cinta yang dikamsut ialah: berharganya satu kerikil di pojok pekarangan, satu titik debu dalam persemayamannya di tengah ruang, yang seandainya dirunut fungsi dan keberadaannya, ternyata berhubungan erat dengan metabolisme alam yang akhirnya berfungsi sebagai keseimbangan kehidupan.

Cinta, kasih, sayang merupakan satu lingkaran utuh yang termasuk tersusun dari bagian lawan kata yakni benci, sebab benci muncul dari letupan cinta. Bahasa ABeGenya, benci dengan cinta hanya berbeda setipis silet. Benci adalah akibat dari reaksi cinta yang tak terpenuhi. Karena benci berwujut cinta negatif, maka diperlukan kesediaan benda untuk mengkholifahi benci menjadi posisi semula, cinta.

Standart nilai cinta berawal sama, yakni ketika makhluk bersedia dicipta menjadi ada-being. Keber-ada-an makhluk baik individu atau kolektif sebagaimana dimaksut dalam teori eksistensialisme hanyalah peletikan awal cinta kepada Tuhan, sebab makhluk bersedia menemani Tuhan dalam kesendiriannya. Cinta kemudian memuai, berkembang terus menebar hingga peradaban akan datang. Dalam perjalanan mengembang inilah cinta sekaligus menentukan nilai keberadaannya dari standart awal.

Cinta yang bernilai positif ialah yang bergerak memahami sejalan dengan apa yang dikehendaki Alloh. Nilai positif dapat dideteksi dengan berbagai metode di antaranya dengan nada (mimik, intonasi, timbre), sorot mata, gerak tubuh ketika cinta berhadapan dengan ‘aku’, dia, dan ‘itu’.

Sengaja tidak menyetarakan ‘cinta’ dengan ‘hidup’, sebab kehidupan hanyalah bagian terkecil dari seluruh proses penyelenggaraan cinta. Orang Jawa merumuskan hidup di dalam ruang cinta dengan ungkapan urep mung mampir ngombe, tidak mampir geltikan, leyeh-leyeh, rerebahan, makan, dll. Filsafat mampir minum, adalah sebuah ungkapan sederhana yang menggambarkan sebuah perjalanan yang tidak lapar atau capek, tetapi hanya haus kering kerontang di padang gersang. Maka yang diperlukan hanyalah seteguk-dua teguk air dan selanjutnya meneruskan perjalanan yang maha panjang.

Terlalu remeh jika keluasan cinta hanya ditumpu-kan pada realitas kehidupan yang menarik konsep kesadaran individu-being self, sebab pada kenyataannya, realitas kesadaran diri ketika ber-ada-being and self- tidak sesuai dengan tuntutan kapasitas nilai. Menyitir apa yang diungkapkan Emha Ainun Nadjib pada pengajian Padhang mBulan 19 Maret 2011, “cinta itu sedemikian luas, hingga mampu menelan ruang dan waktu.” Artinya dapat dimatematikakan: {cinta – ruang waktu = hidup}{hidup – keterpenjaraan dengan kontek kekinian = -hidup / kecacatan). Kesimpulannya ialah bahwa realitas hidup hanyalah tangan panjang dari sejak alam ruh, sejarah lampau, realitas kekinian, sejarah akan datang hingga alam akhirat.

Ada banyak pandangan terutama kaum eksistensialis seperti Soren A. Kierkegaard, Maurice Merleau, Martin Burber, Martin Heidegger, Friedrich W. Nietzsche, Albert Camus, Admund Husserl, Jean-Paul Sartre, Karl Japers dll yang menganggap begitu pentingnya pembangunan eksistensi individu. Padahal pandangan ini sensitif menjarah masa lalu dan masa datang ke hari ini tanpa sensor nilaia positif. Seolah konyol apa yang dilakukan Emha pada sekitar tahun 90-an ketika menggalang parade Lautan Jilbab secara besar besaran dan estafet dari Yogyakarta-Surabaya. Apa ukuran nilai kebudayaan yang dilakukan Emha waktu itu? Kalau mau serius meriset, adalah generasi 10-20 tahun berikutnya, ketika budaya jilbab marak, bisnis butik merebak, desainer mode melirik dan mengucurkan saham, kemudian budaya jilbab terbukti efektif sebagai counter kebejatan moral, bukan tidak mungkin gen kebudayaan berjilbab berawal dari letupan parade Lautan Jilbab lampau. Sebab dalam teori kontruksi sejarah, kebudayaan terbentuk atas kesepekatan suatu komunitas yang terjadi melewati proses interaksi sejak lama.

Pada rumus: Individu + (y) = Cinta, terjawablah kapasitas eksistensi individu. Namun karena hidup itu = (-), maka menghasilkan (– Cinta). Atau karena hidup bukanlah tujuan, maka diperlukan ‘cara’ untuk menambah nilai plus (+) pada Cinta.

Adalah sastra yang berpeluang menambah nilai plus terbanyak dalam bercinta. Keberadaan sastra yang lembut, halus dan indah, bukti dari elaborasi kepekaan menangkap kisi-kisi realitas yang diinternalisasikan dan ditransendensikan melalui penjelajahan secara mendalam ke ruang perasaan.

Serpihan persoalan yang tidak berfungsi bagi kaum pragmatis, diolah dan dirajut sedemikian rupa menjadi makna keindahan dengan sikap bersastra. Terkumpulnya serpihan itulah yang memerkaya nilai, memaknai hidup lebih dari sekedar nominal baku. Walau pun suatu saat ‘setiap’ WNI mempunyai 5 mobil mewah, 5 rumah susun dll, tetap saja disebut warga negara miskin. Apa sebabnya? Watak kehidupan yang dijalankan berkarakter miskin dan korup, hanya ingin mengeruk sesutu ke dalam dirinya tanpa memberi ke luar.

Cara kerja ilmiah adalah: Analisa + Data = Kebenaran = (1+2 =3). Untuk mencapai angka 3, maka 2 harus dicariakan kekurangan untuk menambahinya. Kekurangan sama halnya dengan kelobangan pihak lain. Berbeda dengan metode sastra: Analisa + Data x /y = tak tentu, atau 2 + x / y = ?(Berapa). Pada rumus ini, x dan y yang tidak berupa nominal baku, maka tidak perlu diterka berdasarkan standart. Sebaliknya harus dibiarkan lepas.

Kemenangan sastra ialah sudah bernilai indah sebagai nominal baku. Sastra sudah mengandung nilai positif sebelum bergerak dengan disiplin ilmu lainnya. Sastra menang telak 1: 0 sebelum bertanding di ruang cinta.

Coba kita amati apa yang dikemukakan Emha pada Padhang mBulan edisi 19 Maret lalu tentang percikan bait bait syair yang dinyanyikan Umi Kulszum: wahai dunia / aku juga tertarik kepadamu / cantikmu / keindahanmu / pernak-pernik warnamu / fasilitasmu. Namun maaf / aku tak bisa menikah denganmu / tak bisa menjadikanmu kekasih / karena di dunia ini, aku hanya melintas sesaat / mampir minum / tentu tak setia jika aku menjadikanmu kekasih. Engkau pun demikian, dunia / tugasmu hanyalah memberiku seteguk minuman ketika dahagaku kering kerontang di padang gersang / engkau juga tidak sanggup mewadahi keluasan perjalananku / cara pandangmu terlalu sempit.

Kemenangan sastra pada sajak Umi Kulszum di atas adalah kemenangan ketika menjalani hidup lebih santai, egalitarian, luwes, tidak serakah, berani memberi yang artinya menutup lobang cekung kehidupan di luar individu. Kehidupan yang seimbang aman, tenteram, bersyahaja. Berhati kaya, lebih penting dari kaya itu sendiri.

*) Penulis lahir di Jombang 24 Maret 1975. Menulis esai, puisi, cerpen, cerkak bahasa nJombangan. Redaktur Bulletin Lincak Sastra.