Menggagas Esensi Sastra

Mohammad Takdir Ilahi*
Seputar Indonesia, 10 August 2008

PERBINCANGAN seputar sastra menjadi topik yang menarik untuk dieksposisikan ke permukaan. Sastra dalam lingkungan masyarakat sudah dikenal dan meluas. Bahkan, di pondok pesantren pun sastra menjadi bagian yang tak terpisahkan dan inheren dalam kehidupan santri.

Secara substansial, sastra adalah hasil karya dan karsa manusia yang dimulai dari inspirasi jiwa dan imajinasi yang tinggi. Continue reading “Menggagas Esensi Sastra”

Postmodernisme dan Krisis Identitas Budaya

Urwatul Wustqo
Seputar Indonesia, 09 August 2008

PERKEMBANGAN postmodernisme sering berkaitan dengan wacana-wacana budaya (cultural studies) yang mulai mengarah pada entitas perilaku, termasuk dalam relasi hegemoni.

Hal ini dapat dipahami,mengingat di Barat sendiri, kelahiran postmodernisme tidak lepas dari ruang sosial, yang berdemarkasi, baik dalam interaksi individu, struktur sosial kenegaraan, maupun di ruang publik. Continue reading “Postmodernisme dan Krisis Identitas Budaya”

Godaan Puisi Dalam Politik

Bandung Mawardi*
Pikiran Rakyat, 23 Agus 2008

KONDISI politik Indonesia mulai masuk dalam dunia kata dan imajinasi. Perdebatan dalam wacana pemimpin tua dan muda menjadi ramai dengan sekian pernyataan politik dalam konstruksi bahasa imajinatif. Puisi menjadi pilihan untuk merumuskan pemikiran atas konsep kekuasaan dengan pertimbangan efek estetika dan sosial-politik. Continue reading “Godaan Puisi Dalam Politik”

Akrobat Kata-kata, Kebohongan, dan F Rahardi

Hamsad Rangkuti*
Kompas, 24 Agus 2008

DALAM acara Temu Sastra, Masyarakat Sastra Asia Tenggara di Palangkaraya, yang tidak dihadiri F Rahardi, saya menganjurkan—dan ini memang tugas saya karena saya diundang untuk itu—agar para pengarang muda tidak menghabiskan perhatian dan waktunya untuk main akrobat dengan kata-kata karena ada kecenderungan pada kaum muda—seperti saya waktu muda—untuk cenderung berakrobat dengan kata-kata Continue reading “Akrobat Kata-kata, Kebohongan, dan F Rahardi”

Formalisme dan Simbolisme

Theresia Purbandini
Jurnal Nasional, 31 Agus 2008

BEN Sohib, penulis buku The Da Peci Code, mengatakan prosa Islami karya Hamka dan AA Navis mengandung nilai-nilai luhur, moral, etika yang baik sesuai dengan ajaran agama Islam. Namun sebuah prosa bernapaskan Islam tak melulu hanya berisikan ajaran agama Islam secara simbolik. Selama mengandung nilai-nilai yang sepaham dengan ajaran Islam, maka sebuah prosa dapat saja dikatakan prosa islami. Continue reading “Formalisme dan Simbolisme”

Bahasa »