Aktualisasi Sistem dan Nilai Adat

Febrie Hastiyanto*
Lampung Post, 31 Juli 2010

MEMBACA artikel Feodalisme Modern di Lampung yang ditulis Udo Z. Karzi membuat saya gelisah. Udo seperti biasa menulis dengan tajam, berisi, dan ini yang paling menggetarkan: to the point alias “tunjuk hidung”.

Mencermati dua peristiwa pemberian adok yakni Begawi Adat Mewaghi di Gunungsugih dan dan penyerahan gelar adat oleh Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) kepada Gubernur dan Ketua DPRD Lampung di Mahan Agung yang kemudian bersambut polemik, Continue reading “Aktualisasi Sistem dan Nilai Adat”

Pendidikan Sastra, Seuntai Berlian yang Belum Terasah

Laila Putri Rizalia
Siger Post, Edisi 29/TH I, 27 Sep–3 Okt 2010

Bait-bait menyentuh hati selalu menjadi bunga indah dari pohon-pohon sastra. Dunia sastra senantiasa memberikan nuansa lain dalam kehidupan sosial, dengan menyibak berbagai sisi jagad beserta isinya. Bisa dikatakan, dunia tanpa sastra laksana dunia tanpa cahaya. Sayangnya, hingga kini sastra masih dianaktirikan oleh dunia pendidikan. Continue reading “Pendidikan Sastra, Seuntai Berlian yang Belum Terasah”

Buku Sastra di Negeri tanpa Pembaca

Asarpin

Sebut saja kalau negeri kita sudah terbebas dari buta huruf. Saya tak percaya kalau ada penyair yang menulis puisi tanpa pernah membaca buku puisi. Saya juga tak yakin ada penyair yang menulis prosa yang bagus tanpa bergaul dengan buku-buku prosa yang juga bagus. Sebuah karya lahir dari persentuhan dengan karya lain. dan persentuhan itu kadang intim tapi juga kadang renggang. Continue reading “Buku Sastra di Negeri tanpa Pembaca”

Pengajaran Sastra

Putu Wijaya
putuwijaya.wordpress.com

Bagaimana sebaiknya mengajarkan sastra? Itu bukan pertanyaan pertama yang harus dijawab oleh seorang guru sastra. Karena mula-mula yang harus dijawabnya adalah: apakah sastra itu? Kemudian, menyusul pertanyaan: apa yang dimaksudkan dengan mengajarkan? Dapatkah sastra diajarkan? Lalu siapa saja yang hendak dibelajarkannya pada sastra. Continue reading “Pengajaran Sastra”

Bahasa ยป