Spirit Seni dan Keeksakan Sains

Asarpin
lampungpost.com

Yang rasional dan yang spiritual pada akhirnya juga diskusi tentang seni dan sains. Namun, sains tak mendapat perhatian budayawan dan sastrawan. Mungkinkah berharap puisi menjadi penyembuh luka besar kemanusian?

Pada diskusi tentang fiksi mikro di UKMBS Unila beberapa waktu lalu, Ari Pahala dan Iswadi Pratama menyinggung soal logika dalam sastra. Kedua penyair terdepan di Lampung ini tidak cuma sekali melontarkan hubungan seni dan sains. Continue reading “Spirit Seni dan Keeksakan Sains”

Kesenian yang Kurang Perhatian

Anton Kurniawan*
Lampung Post, 29 Juli 2006

Cahaya remang-remang dari lighting yang cukup sederhana, kursi, dan layar berwarna hitam tampak di ruangan berukuran sedang yang dipenuhi sekitar 50-an orang. Asap yang berasal dari rokok para penonton perlahan merayap memenuhi ruangan, menjelma kabut.

Di antara para penonton tampak beberapa penyair yang sudah amat dikenal dalam dunia kepenyairan di Lampung, bahkan di tingkat nasional, di antaranya Iswadi Pratama, Budi Hutasuhut, Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga, dan Eddy Samudera. Continue reading “Kesenian yang Kurang Perhatian”

Dicari: Sastra(wan) Kalteng!

Udo Z. Karzi *
Borneonews, 4 Agus 2008

SUDAH lama memang saya bertanya-tanya, adakah sastrawan di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Teman-teman bilang ada. Namun, siapa, tidak ada yang bisa menyebutkannya.

Sama saja ketika Temu Sastra se-Kalteng, 18 Juli 2008 lalu, Kepala Kantor Bahasa Kalteng Puji Santoso menyebutkan Kalteng baru memiliki tiga sastrawan yang dikenal publik. Lagi-lagi saya tidak menemukan nama. Continue reading “Dicari: Sastra(wan) Kalteng!”

Paradok ‘Rumah Pasir’ Koma

S. Jai *
Radar Surabaya, 21 Nov 2010

SEBETULNYA tak ada yang salah dengan pesan dalam pertunjukan teater. Meski selaku seni tentu yang terpenting adalah kesan. Akar budaya kita cukup megah dibangun pelbagai tradisi yang sarat nuansa pesan—tradisi tutur, wayang, kelisanan.

Yang menjadi soal adalah bagaimana sebuah pertunjukan tersebut mengedepankan bangun bahasa dramatif, yang efektif, inspiratif dan tentu saja memberikan pencerahan baik bagi insan panggung maupun public teater yang hadir dalam peristiwa teater. Continue reading “Paradok ‘Rumah Pasir’ Koma”

“Autopoiesis” Takdir

Nirwan Ahmad Arsuka *
nasional.kompas.com

Sutan Takdir Alisjahbana menarik karena segugus paham yang diperjuangkannya. Paham-paham tersebut menjadi memikat bukan hanya karena bergetar dalam diri STA, tetapi karena paham-paham tersebut ternyata sungguh punya dasar yang kukuh dan jangkauan yang jauh. Yang paling berharga dari pemikiran STA tampaknya adalah prinsip autopoiesis, penciptaan dan pelampauan diri entitas, yang diterapkan pada skala yang luas. Prinsip inilah agaknya yang tak ditangkap oleh para pengritik STA, termasuk Nirwan Dewanto (dalam pidatonya yang diliput banyak media besar di Kongres Kebudayaan 1991). Continue reading ““Autopoiesis” Takdir”

Bahasa »