Armageddon: Relegiusitas Danarto Pada Pertunjukan Teater

Denny Mizhar *

Lampu menyala di panggung dengan setting batu-batu besar dan sebuah taman. Belakang terbentang kain separuh hitam dan separuh putih. Panggung pertunjukan pun dimulai, iringan musik yang digubah oleh Leo Zaini dan naskah drama yang diadaptasi oleh Okto Fajar dari salah satu cerpen karya Danarto “Armageddon” berpadu saling mengisi dan membatu menjadi satu kemasan pertunjukan teater. Di awali dengan adegan pencarian seorang Ibu mencari pada anak gadisnya yang sudah lima malam tidak pulang. Tokoh Ibu yang diperankan oleh Ade Diana Afrianti, sedangkan Gadis diperankan oleh Caulina Dike Virginis Sholiha. Continue reading “Armageddon: Relegiusitas Danarto Pada Pertunjukan Teater”

Pemikir(an) Kebudayaan Lampung

Udo Z. Karzi
Lampung Post, 2 Des 2006

Terus terang, saya berharap banyak mendapatkan “sesuatu” ketika menghadiri peluncuran buku Hukum Adat dalam Tebaran Pemikiran (Bandar Lampung, Universitas Lampung, 2006) karya H. Rizani Puspawidjaya, S.H. di Hotel Indra Puri, Bandar Lampung, 19 Oktober 2006. Meski telat saya dapat menangkap substansi dari acara ini: tak lebih dari membicarakan masalah lama yang — menurut saya — sudah terlalu sering dibahas. Continue reading “Pemikir(an) Kebudayaan Lampung”

Idealisme dalam Berkesenian

Syaiful Irba Tanpaka *
Lampung Post, 24 Agus 2008

SPIRITUALITAS berkesenian menjadi barang langka. Sama langkanya dengan harimau sumatera. Sseniman kita lebih banyak tidur dan bermimpi.

Beberapa catatan menarik tentang dunia kesenian di Lampung saya dapatkan setelah membaca Lampung Post. Ari Pahala Hutabarat menulis kurangnya kesadaran seniman mendudukkan karya seni pada pondasi rasionalitas (Teater dan Usaha Menjadi Rasional, 27-7); Iswadi Pratama Continue reading “Idealisme dalam Berkesenian”

Lenyapnya Tradisi dan Budaya Tradisional

Naim Emel Prahana *
http://lampungpost.com/

BELUM lama ini penulis melakukan perjalanan “mudik” ke tanah kelahiran. Jika dicatat waktu tempuh antara pukul 06.00 dan 22.00, berarti perjalanan dapat ditempuh sekitar 16 jam, sudah termasuk istirahat beberapa kali. Perjalanan panjang itu melintasi kota, kampung, dusun, talang, kebun, sawah, pegunungan, sungai, kota, dan hutan, dengan berbagai pertemuan suku bangsa sepanjang jalan yang dilalui. Continue reading “Lenyapnya Tradisi dan Budaya Tradisional”

Bahasa ยป