SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI; DALAM SUATU PENCARIAN

M.D. Atmaja

PENGANTAR

Seluruh dari kita, pastinya sepakat kalau saya mengatakan kehidupan manusia ini selayaknya perjalanan dari suatu tempat menuju suatu tempat yang lain. Dalam perjalanan itu, kita akan menemukan berbagai persoalan, entah persoalan yang menyenangkan maupun yang tidak kita senangi. Pun, selayaknya dalam perjalanan juga, dapat dipastikan kita melewati suatu jalan yang kita pilih. Terdengar menyenangkan saat membayangkan keadaan ini, berjalan dalam suatu perjalanan yang kita ingini, di jalan sendiri yang kita pilih, dengan menggunakan kendaraan yang dipilih juga sendiri kemudian diusahakan, demi menuju ke suatu tempat juga yang sudah kita tentukan. Continue reading “SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI; DALAM SUATU PENCARIAN”

Sitok Srengenge: Puisi sebagai Pertaruhan Berbahasa

Asarpin

Dia menulis dengan bahasa yang sangat puitis. Barangkali inilah modal utamanya sebagai penyair—belakangan juga mencatatkan diri sebagai penulis prosa yang liris dan puitis, yang hanya bisa ditandingi oleh kejernihan bahasa prosa Nukila Amal. Terus terang, saya iri dengan kemampuan bahasa Indonesia yang dimilikinya. Bahkan, saya tak bisa menyembunyikan keterpesonaan setiap kali memukan sajak-sajaknya. Selalu ada semacam godaan untuk mengikutinya, jadi epigonnya, atau mengambilalih, atau memiuhnya. Mungkin benar kata sebagian orang: tulisan yang bagus akan selalu menggoda orang untuk jadi pencuri. Continue reading “Sitok Srengenge: Puisi sebagai Pertaruhan Berbahasa”

Mengingat Nautilus, Menengok Lovinesha

Abdul Aziz Rasjid
Bulletin Sastra Pawon edisi 29 III/2010

Lewat tengah hari, 21 Maret 1868, Kapten Nemo menggelar bendera hitam bertuliskan huruf emas N yang terputus–putus di atas kain tipis. Dia, lalu berpaling ke arah matahari yang mengirimkan sinar terakhirnya menjilati laut. Di Kutub Selatan, Kapten yang penuh teka-teki itu berdiri di puncak medan yang setengah porfiris setengah basalt, memandang hamparan ice-field yang menyilaukan, terkesima oleh Nautilus kapal selamnya yang terlihat seakan cetace sedang tidur. Continue reading “Mengingat Nautilus, Menengok Lovinesha”

REALISME DAN SASTRA MULTIKULTUR, MASA DEPAN SASTRA KITA

S Yoga
Jawa Pos, 31 Okt 2010

Dalam perkembangan sastra kita, dinamika sejarah sastra dunia, sangat berpengaruh. Tengok Pujangga Baru, yang merupakan gema dari angkatan 80 di negeri Belanda. Angkatan Gelanggang atau angkatan 45, yang digemai oleh sastra dunia yang memiliki konsepsi modernisme. Demikian juga dengan dekade 70an, lewat eksistensialisme dan absurditas. Termasuk juga polemik sastra, karya sastra yang bersifat postmodernisme, yang merupakan gema yang sudah berkecamuk pada tahun 70an di Eropa. Tak ketinggalan polemik sastra kontekstual, yang merupakan gema dari gerakan sastra multikultur yang mengejala di sastra dunia hingga kini. Continue reading “REALISME DAN SASTRA MULTIKULTUR, MASA DEPAN SASTRA KITA”

Bahasa »