Nietzsche: Jangan Jadi Kaum Dombawi

Ardus M Sawega
Kompas, 20 Feb 2011

Lalu,/seketika,/menukik lurus,/dengan cakar terhunus,/mencengkeram domba-domba,/dengan lapar membara,/berahikan domba,/masgul pada segala-jiwa domba,/masgul murka pada segala airmuka/yang budiman, dombawi, dungu,/bersifat gumpan bulu,/dan baik budi susu dombawi… (Cuma Pandir! Cuma Penyair!)

Berthold Damhauser (58), pengajar Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, dan editor Seri Puisi Jerman, pada Pembacaan Puisi-puisi Friederich Nietzsche, ”Syahwat Keabadian”, di Balai Soedjatmoko, Solo, Kamis (17/2) malam, ditodong pertanyaan, apa yang relevan dari pokok-pokok pemikiran Nietzsche dengan situasi di Indonesia masa kini?

”Nietzsche mengecam manusia-domba dan sikap beragama yang dombawi. Kaum dombawi adalah gerombolan massa. Manusia bertindak seperti domba, dungu, tak bisa berpikir mandiri, dan mudah digiring untuk berbuat kejahatan. Ia mengimbau agar kita hidup dan berpikir mandiri, tidak mudah dipengaruhi atau diperintah orang lain,” jawab Damhauser.

Antusiasme audiens mengikuti acara pembacaan puisi dan diskusi mengiringi peluncuran kumpulan puisi ”Syahwat Keabadian” di Solo—dari rencana acara serupa di lima kota (Semarang, Solo, Magelang, Jakarta, Tanjung Pinang)—menunjukkan apresiasi kalangan terpelajar Indonesia terhadap Friederich Nietzsche (1844-1900).

Nietzsche adalah filsuf Jerman yang pemikirannya punya pengaruh dan berdampak besar pada jagat filsafat dan perkembangan pemikiran di dunia, sejajar dengan Karl Marx dan Sigmund Freud. Selain sebagai filsuf, Nietzsche sebenarnya juga seorang penyair besar. Bahkan, intisari pemikiran filosofisnya banyak ditemukan pada karya-karya puisinya, yang jumlahnya tak kurang dari 500.

Menurut Damhauser, di Indonesia, Nietzsche kurang dikenal sebagai penyair. ”Nietzsche membuat pembaruan pada sastra Jerman. Puisi-puisinya menunjukkan kebebasan berbahasa, tetapi sekaligus mengenalkan metafora-metafora baru sehingga menciptakan bahasa sastra yang luar biasa indah. Ia bisa disebut sebagai maestro bahasa setelah Martin Luther dan Johann Wolfgang von Goethe,” kata Damhauser.

Ateis

Karya pemikirannya yang paling menggemparkan dan mengguncang dunia adalah pernyataan: ”Tuhan sudah mati”. Namun, menurut Damhauser, walau Nietzsche seorang yang ”100 persen ateis”, sebenarnya pemikiran tersebut bukan yang pertama kali. Di Jerman, pada saat itu kepercayaan tentang Tuhan memang sudah hilang atau memudar.

Damhauser menuturkan, sejak usia 15 tahun, Nietzsche telah menulis berbagai pemikiran, selain puisi, dan semakin dewasa pemikirannya semakin luas dan liar.

Di mata Agus R Sarjono, editor Seri Puisi Jerman, Nietzsche adalah filsuf sekaligus penyair yang justru paling intens bergumul dengan tema ketuhanan. Dia menjalani banyak tahapan pengenalan sejak dia menjadi calon rahib yang didera demam rindu pada Tuhan, sebelum sampai pada pernyataannya, ”Tuhan sudah mati”.

Simak puisi yang dia tulis saat usia 18 tahun, ”Engkau Memanggil, Tuhan, Kuhampiri”: Engkau memanggil:/ Tuhan: aku bergegas/Dan kini mendamba/Di tangga singgasanaMu/Alangkah ramah/Menyakitkan/Berkilau menembus kalbu:Tuhan kuhampiri… (dari kumpulan Kepada Tuhan yang Tak Dikenal).

Damhauser menyebutkan, walaupun Nietzsche tidak percaya pada akhirat dan metafisika, ia percaya akan roh di seberang kebendaan. Namun, sikap transendentalnya itu ia tuangkan ke dalam keduniaan, keimanenan.

Nietzsche pada dasarnya ingin menebarkan sikap skeptis terhadap apa saja, termasuk tentang kebenaran karena tidak ada kebenaran yang mutlak. Pandangan itu mengkristal dalam mahakaryanya, ”Demikian Sabda Zarathustra”. Melalui tokoh fiktif Zarathustra, Nietzsche ingin menafikan dikotomi tentang baik dan jahat.

Ia juga menolak moralitas nasrani, rasa iba hati, cinta kepada sesama. Namun, menjelang akhir hidupnya, saat dia mulai dihinggapi penyakit jiwa, mendadak ia menunjukkan sikap iba hati. Di Turin, ia memeluk kuda yang dilecuti oleh majikannya.

Walau dia dikenal sebagai ateis dan menolak moralitas agama, beberapa pemikirannya menunjukkan bahwa Nietzsche percaya pada ”keberulangan abadi”, semacam konsep reinkarnasi dalam agama Timur.

Simak sepenggal puisinya, ”Tujuh Materai”, yang dibacakan secara bergantian oleh Berthold Damhauser, Dorothea Rossa Herliany, dan Sosiawan Leak: ….Oh, bagaimana aku tak syahwatkan keabadian/ dan cincin kawin segala cincin,/ –cincin Sang Keberulangan!// Tak pernah kutemukan perempuan/ yang ingin kujadikan ibu anak-anakku,/ kecuali perempuan yang kucintai ini:/ karena kucintai kau, oh Keabadian!//.

(Ardus M Sawega, wartawan di Solo)
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/02/nietzsche-jangan-jadi-kaum-dombawi.html