TKI DI MALAYSIA: MASALAH KULTUR

Maman S. Mahayana *

Mengapa terjadi eksodus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Malaysia? Dalam sejarah hubungan Indonesia—Malaysia, baru kali ini terjadi “pengusiran” besar-besaran warga Indonesia oleh negeri jiran itu. Apakah duduk masalahnya sekadar menyangkut “pendatang haram” atau ada hal lain yang lebih mendasar? Sejumlah pertanyaan lain bisa saja kita deretkan lagi, meskipun barangkali jawabannya tak menyelesaikan masalah. Masalah apa sesungguhnya yang mendasari di balik peristiwa itu? Continue reading “TKI DI MALAYSIA: MASALAH KULTUR”

Sayembara Sastra, Rangsangan Menulis, dan Pencapaian

Haris Firdaus

Tahun 1998, saat Kongres Bahasa Indonesia VII, penyair Taufiq Ismail pernah menyebut jarangnya sayembara sastra sebagai salah satu persoalan dalam perkembangan sastra Indonesia saat itu. Tapi, soal jarangnya sayembara sastra ini, kalau kita melihat realitas sekarang, justru tak perlu dikhawatirkan lagi Sebab, beberapa tahun terakhir ini, sayembara sastra memang mengalami peningkatan jumlah dan ragam dengan presentase yang bisa dibilang luar biasa. Continue reading “Sayembara Sastra, Rangsangan Menulis, dan Pencapaian”

TERNYATA PRAM LEBIH BESAR DARI YANG KITA DUGA

Jo Pakagula
pawonsastra.blogspot.com

Menakar seorang Pramoedya Ananta Toer tidaklah mudah. Membicarakannya, secara tak sadar juga kerap menyeret kita kepada prasangka keberpihakan. Kesan masyarakat sastra terhadap Pram pada umumnya terbagi menjadi dua kelompok. Satu pihak memujinya selangit dan memujanya bak tanpa cela, pihak lain mencercanya habis-habisan tanpa mau menyelami lebih dalam siapakah sebenarnya Pram. Namun beberapa tahun terakhir nampaknya kian kentara upaya untuk menilai nominator Nobel bidang Sastra dan penerima Hadiah Magsaysay ini secara proporsional, lebih fair dan dengan hati yang jernih. Meski maaf, penilaian semacam ini masih sangat jarang kita dengar. Continue reading “TERNYATA PRAM LEBIH BESAR DARI YANG KITA DUGA”

Mencintai Kearifan Lokal

Budaya dan Lingkungan Hidup
YF La Kahija
http://www.unisosdem.org/

Salah satu contoh yang luar biasa tentang lingkaran magis adalah Candi Borobudur di Jawa. Jalan memutar (circumambulatio) ditempuh dalam alur spiral…. Fondasi Borobudur berbentuk lingkaran dalam bujur sangkar. Struktur ini dalam bahasa Sanskerta disebut mandala. Kata Sanskerta ini berarti lingkaran, khususnya lingkaran magis. Simbol mandala berarti tempat suci (temenos) yang pusatnya dilindungi. Dan, inilah simbol terpenting dalam melihat gambar-gambar ketidaksadaran. Simbol ini menunjukkan perlindungan pusat kepribadian dari tarikan dan pengaruh dunia luar. Continue reading “Mencintai Kearifan Lokal”

PEZIARAHAN DAN MASYARAKAT BARU

Yunanto Sutyastomo
http://pawonsastra.blogspot.com/

Peradaban terasa berjalan sangat cepat, entah ini karena perasaan kita atau perubahan yang terjadi. Tapi yang pasti kini seolah manusia terus bergerak, tidak ada ruang dan waktu untuk berhenti sejenak. Peradaban seperti seorang pertualang dengan sepeda motor DKW yang memakai jaket kulit, yang sebenarnya butuh waktu untuk berhenti di pinggir jalan. Dan punya kewajiban untuk menoleh ke belakang, agar dia tahu apa saja yang telah dilewatinya. Tapi seolah memburu waktu, tidak ada kesempatan untuk berhenti dan menoleh ke belakang. Continue reading “PEZIARAHAN DAN MASYARAKAT BARU”

Bahasa »