Sastra dan Sejarah

Rifqi Muhammad
http://pawonsastra.blogspot.com/

Dalam dunia kesusastraan Indonesia, agaknya tidak sedikit novel-novel yang bercerita mengenai sejarah. Wajar memang, sebab selain memiliki keleluasaan, genre sastra inilah yang memungkinkan untuk ditulis dengan menggunakan repertoar (repertoire) peristiwa historis. Di samping itu, novel juga ditunjang oleh kemampuannya untuk mengekspresikan secara rinci dan gamblang semua unsur sastra yang mencakup tema, fakta, dan sarana. Secara sederhana, bisa kita pahami bahwa genre sastra yang satu ini berkisah tantang cerita lampau. Hal yang tidak berbeda degan ilmu sejarah. Meski terkesan kaku karena terbalut kaidah metodologis, pada dasarnya ilmu sejarah adalah cerita. Continue reading “Sastra dan Sejarah”

Dilahirkan Kembali lewat Puisi Cinta

Ragil Supriyatno Samid
http://pawonsastra.blogspot.com/

Hampir bisa dipastikan bahwa bentuk puisi yang pertama kali digubah oleh semua penyair di awal karier kepenulisan mereka adalah puisi lirik. Puisi sebagai penampung segala luapan perasaan si penyair yang ditulis dengan bahasa yang lugas, yang menceritakan peristiwa-peristiwa kecil dan intim yang dialaminya serta, banyak mempergunakan gambaran-gambaran alam sebagai simbolisasi makna dalam tulisan; secara sederhana, begitulah ciri dari puisi lirik. Tema dalam puisi lirik dipenuhi oleh hal-hal universal seperti cinta, keriduan, perpisahan, kesendirian, kesunyian dan keterasingan. Continue reading “Dilahirkan Kembali lewat Puisi Cinta”

Pers Perjuangan di Indonesia

Paulus Mujiran
http://lampungpost.com/

Pers Indonesia, meminjam wartawan senior Rosihan Anwar, tidak boleh meninggalkan ciri khasnya sebagai pers perjuangan. Ungkapan Rosihan Anwar tahun 1950-an itu sampai kini masih terasa amat relevan. Terlebih ketika bangsa masih dijajah seperti sekarang ini oleh kemiskinan, perbudakan dan korupsi, pers harus tetap terdepan menyuarakan kebenaran dan keadilan. Pers perjuangan adalah pers yang berada di pihak rakyat. Continue reading “Pers Perjuangan di Indonesia”

Hal Ihwal Identitas Lampung

Budi Hutasuhut*
Lampung Post, 5 Des 2006

Hal ihwal identitas dalam produk-produk kebudayaan kita, termasuk dalam karya sastra, melahirkan polemik yang tak berkesudahan sejak zaman Sutan Takdir Alisjahbana. Kesimpulan dari setiap polemik selalu saja “tak ada yang bisa disimpulkan” karena semua identitas yang bertebaran di lingkungan masyarakat memiliki argumentasi yang cocok dan pas untuk menjadi representasi nasional. Continue reading “Hal Ihwal Identitas Lampung”

Sejarah Silam dan Romantisme Pesagi

Anton Kurniawan *
http://www.lampungpost.com/

Sebagai muasal, masa silam adalah ibu kandung yang telah melahirkan apa yang kita jalani saat ini. Tak perlu diperdebatkan. Bahkan sang orator, Putra Sang Fajar, Soekarno berkata, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Namun, agaknya derasnya arus zaman serta kuatnya hempasan gelombang modernisasi saat ini memaksa kita lupa sejarah masa silam. Dan bila kita lalai, peristiwa masa lalu yang penuh nilai dan mengajarkan kearifan itu akan ber-balin rupa serupa debu yang lantak di bawah lesat hujan. Tak ada yang mengenangnya. Continue reading “Sejarah Silam dan Romantisme Pesagi”

Bahasa ยป