Rendra: “Semuanya Tersenyum dan Melambaikan Tangan Kepadaku”

Abdul Aziz Rasjid
Suara Karya, 15 Agus 2009

Rendra adalah usia dan nafas panjang, begitulah Binhad Nurrohmat mengawali esai yang berjudul “Dari Perempuan Hingga Kekuasaan” dalam buku Membaca Kepenyairan Rendra (KEPEL, 2005). Namun, Kamis malam, 6 Agustus 2009 tepatnya pukul 22.15, kabar duka kita terima; Willybordus Surendra meninggal dunia, Bagi saya pribadi, berita itu menyentakkan hati dan saya kira bukan hanya keluarga besar Rendra saja yang sedang diliputi duka. Continue reading “Rendra: “Semuanya Tersenyum dan Melambaikan Tangan Kepadaku””

Sastra Lampung Bukan Sastra Lisan

Iwan Nurdaya-Djafar
lampungpost.com

Tajuk tulisan di atas ingin menafikan pandangan yang mengatakan bahwa sastra Lampung klasik adalah sastra lisan (oral literature). Dari jurusan sebaliknya, tajuk tadi sekaligus ingin menandaskan bahwa sastra Lampung klasik adalah sastra tulis.

PANDANGAN yang mengatakan bahwa sastra Lampung klasik adalah sastra lisan mencerminkan sikap bias, ketidakjelian sekaligus kerancuan di dalam mengklasifikasikan sastra Lampung klasik karena telah mengacaukannya dengan bentuk metode penyebaran yang terpakai oleh sastra Lampung klasik, Continue reading “Sastra Lampung Bukan Sastra Lisan”

Kualitas Komunitas Sastra

Iwan Gunadi
http://www.suarakarya-online.com/

Setelah beberapa tahun terlibat dalam komunitas sastra serta tak jarang membaca atau mendengar istilah “sastra komunitas”, saya mulai mempertanyakan lebih dalam kedua terminologi tersebut. Apa itu sastra komunitas? Apa benar ada? Seiring dengan itu, saya juga membatin, apakah komunitas sastra juga merupakan sesuatu yang nyata? Continue reading “Kualitas Komunitas Sastra”

Bahasa »