Bahasa dan sebagainya dalam antologi Presiden Panji Laras

Nu’man ‘Zeus’ Anggara

M.S. Nugroho, sebagai cerpenis yang telah menulis beberapa karya yang beridekan sastra Panji, romantika remaja, pergaulan suami istri telah memberikan penawaran yang di beberapa sisi menyegarkan dan di sisi yang lain memmpunyai kecenderungan identik dengan gaya penulisan beberapa pengarang Jombang. Sebagai pembaca yang kurang atau bahkan sedikit sekali mengetahui seluk-beluk cerita panji, melalui tulisan ini akan mencoba membayangkan logika cerpen pengarang kita ini dengan resiko segala kekurangan dan ketidak-akuratan. Continue reading “Bahasa dan sebagainya dalam antologi Presiden Panji Laras”

Lidi Segala Kata, Sajak Herry Lamongan

Zawawi Se

Mungkin adalah benar bila sebuah pendapat menyatakan bahwa ketika kita menyakiti seseorang itu ibarat menancapkan sebuah paku pada sebuah kayu. Bila berkali-kali kita menyakiti seseorang berarti hal itu seperti berkali-kali pula kita menancapkan paku-paku itu pada sebuah kayu.

Sedangkan ketika permohona maaf kita lontarkan atas kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, mungkin hal itu ibarat kita mencabut paku-paku yang telah kita tancapkan tersebut dari sebuah kayu. Continue reading “Lidi Segala Kata, Sajak Herry Lamongan”

Identitas Lokal dalam Teks-Teks Sastra

Abdul Aziz Rasjid
http://www.lampungpost.com/

DALAM deru gelombang globalisasi yang tiada henti, penciptaan kebudayaan masyarakat rentan untuk mengalami penyeragaman identitas sosial. Di peradaban kini kecanggihan teknologi media dan informasi telah difungsikan sedemikian rupa sebagai ruang untuk memperkenalkan sekaligus mengemas tawaran-tawaran berupa imaji-imaji kemakmuran dalam bentuk benda-benda yang mengusung nilai tanda–mendongkrak derajat/status sosial sebelum ditransaksikan pada masyarakat. Continue reading “Identitas Lokal dalam Teks-Teks Sastra”

Angkringan Manggar: Sosok Paradoksal Dunia Virtual

Abdul Aziz Rasjid
http://cetak.kompas.com/7 April 2009

Manggar, bukanlah tokoh epik sekaligus tragik. Dipandang dari berbagai segi manapun, ia tak memenuhi syarat untuk itu: lelaki rupawan, cerdas, bangsawan namun bersifat pemberontak, penuh cita-cita kebebasan dan di sisi yang lain romantis, pemberani, juga diliputi pertanyaan dan kekecewaan pada kehidupan.

Manggar —bapak dari gadis kecil yang belum lagi bersekolah— hanyalah pedagang angkringan asal kota Klaten, Jawa Tengah. Dari pukul lima sore sampai dua pagi, ia memperjuangkan keberlangsungan hidup keluarganya dengan menjual makanan dan minuman tradisional di pinggiran kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) —Karesidenan Banyumas. Continue reading “Angkringan Manggar: Sosok Paradoksal Dunia Virtual”

Bahasa »