MEMBACA KULIT LUAR “KITAB PARA MALAIKAT” NUREL JAVISSYARQI

Kitab-Para-Malaikat-KPM

M.D. Atmaja

Membaca karya sastra, dalam hal ini adalah karya puisi sama halnya dengan perjalanan panjang menyusuri jalan setapak yang dipenuhi cabang dan penunjuk jalan (baca: tanda). Berbagai macam (bentuk) penunjuk jalan tersebut membawa pada pengungkapan pengalaman, baik pengalaman realitas maupun pengalaman batin si kreator tanda. Aspek pengalaman seorang kreator mempengaruhi bangunan struktur tanda yang dibangun. Pengalaman menjadi dasar atas pembangunan bangunan tanda yang kelak akan diterjemahkan oleh pembaca. Continue reading “MEMBACA KULIT LUAR “KITAB PARA MALAIKAT” NUREL JAVISSYARQI”

Religiusitas yang tak verbal pada Telepon Berdering Dini Hari

:Sebuah Sajak Bambang Kempling
Zawawi Se

Beberapa waktu lalu masih di tahun 2009 ini saya masih teringat ketika memposting sebuah puisi-puisi-an saya ke milist apresiasi sastra. Ketika itu puisi-puisi-an tersebut mendapat respon dari Hudan Hidayat yang menyatakan bahwa puisi-puisi-an yang saya buat tersebut masih terlalu verbal. Continue reading “Religiusitas yang tak verbal pada Telepon Berdering Dini Hari”

Histeria Budaya Kelisanan

Omonrupira
http://blog.harian-aceh.com/

DALAM buku kumpulan esainya yang berjudul Women Womeni Lupus, Faruk, seorang Doktor Sastra UGM menulis tentang Histeria Budaya sebagai Pertemuan Kelisanan. Dalam esai tersebut ia mengungkapkan tentang perbedaan antara budaya lisan dan tulisan.

Secara khusus lagi, ia mengungkapkan tentang hysteria budaya yang terjadi saat ini dengan munculnya media elektronik yang memungkinkan subjek pembaca terpesona pada sebuah produk budaya tertentu. Ia mengatakan bahwa histeria itu muncul karena pertemuan kelisanan. Continue reading “Histeria Budaya Kelisanan”

Sastra Islami Indonesia

Alimuddin
http://blog.harian-aceh.com/

Pembicaraan mengenai sastra Islam di Indonesia, hampir selalu mengundang polemik. Polemik tersebut bahkan tak beranjak dari hal yang itu-itu juga, pro dan kontra mengenai apa yang disebut sebagai “pengkotak-kotakan sastra“, serta masalah definisi dan kriteria sastra Islam. Bahkan, hingga kini, eksistensi Sastra Islami di Indonesia masih ‘mengambang’. Beberapa pihak ada yang menolak apa yang disebut Sastra Islami. Uniknya, kebanyakan dari mereka adalah dari pihak muslim sendiri. Continue reading “Sastra Islami Indonesia”

Menakar Puisi “Kamboja Bergoyang Seusai Pemakaman”

— Sebuah Puisi Edi Romadhon—
Abdul Aziz Rasjid

Juli tahun 2009 ini, usianya terhitung limapuluh tahun lebih tiga bulan. Sedang sebagai penyair —jika ditilik dari antologi puisinya yang pertama: Antologi Lingkaran Kosong (IKIP Yogyakarta, 1981)— usia kepenyairannya terhitung duapuluh delapan tahun. Sebuah perjalanan kepenyairan yang tak dapat dikatakan pendek, sebab telah ia tempuh lebih dari separuh usia kehidupannya. Continue reading “Menakar Puisi “Kamboja Bergoyang Seusai Pemakaman””

Bahasa »