MALAYSIA MENJELANG PROKLAMASI INDONESIA

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Hubungan Indonesia?Malaysia dalam satu dasawarsa ini kerap diwarnai insiden yang seolah-olah menciptakan ketegangan serius bagi kedua negara. Meski paroh pertama dasawarsa 1960-an (awal tahun 1965) pernah terjadi konflik Indonesia?Malaysia, dalam kenyataannya, konflik itu hanya berlaku bagi Jakarta dan Kuala Lumpur. Pasukan Indonesia yang bertugas di perbatasan Malaysia, tidak pernah memicu pelatuk senjatanya. Demikian juga, hubungan pendudukan di perbatasan kedua negara, berjalan seperti tidak sedang terjadi ketegangan antara Indonesia?Malaysia. Continue reading “MALAYSIA MENJELANG PROKLAMASI INDONESIA”

Sebuah Esei Kenangan Seorang Sastrawan

Dari Era Soekarno ke Soeharto (1)
Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Di tahun 1963 aku terdampar di sebuah rumah petak berjendela lebar kawat kandang ayam di Jakarta. Rumah ini terkenal sebagai sebuah sanggar beberapa pelukis, Sanggar Bambu namanya. Ketuanya Sunarto Pr. Di sanggar itu tinggal pelukis Mulyadi, Danarto dan lain-lain. Di ujung bangunan berpetak-petak itu ada petak yang ditinggali seorang ibu yang baik hati yang membuka sebuah warung yang laris. Continue reading “Sebuah Esei Kenangan Seorang Sastrawan”

Sebuah Esai Kenangan Seorang Sastrawan

Dari Era Soekarno Ke Soeharto (2)
Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Kantor majalah Kuncung memang menjadi tempat seniman berusil ria, bernyentrik-nyentrik. Menurut cerita seniman Hartoyo Andangjaya, yang paling nyentrik dan usil di eranya adalah seniman Tirnoyuwono. Suatu hari di masa Mulyanto menempati kantor Kuncung, Tirnoyuwono datang dari Bandung. Seperti biasa ia nginap tetapi pada suatu siang ia lapar. Karena tidak punya uang ia menyeberang ke dapur tetangga, lalu minta makan kepada babu. Continue reading “Sebuah Esai Kenangan Seorang Sastrawan”

Sang penyair dan sang panglima [W.S. Rendra]

Goenawan Mohamad
majalah.tempointeraktif.com

PADA suatu malam Agustus 1970 W.S. Rendra ditahan. Ia, bersama 10 orang lain, bersemadi di petak rumput di tengah Jalan Thamrin, Jakarta. Malam itu beberapa ratus mahasiswa menyiapkan secara massal aksi “Malam Tirakatan”, sementara gabungan pasukan bersenjata bermaksud menggagalkannya. Bentrokan kekerasan dikhawatirkan. Continue reading “Sang penyair dan sang panglima [W.S. Rendra]”

“Play-Boy” Chairil Anwar, WS Rendra, dan Linda Djalil

Berthy B Rahawarin
kompasiana.com

Apakah Chairil Anwar dan WS Rendra dapat dipandang sebagai pria jenis “play-boy” pada masanya? Dalam rangka mengenang 40 hari meninggalnya sastrawan Wahyu Surendra Rendra atau Mas Willy, figur tokoh sastrawan muda nan ajaib Chairil Anwar disanding bersama, tidak untuk membahas dan membandingkan karakteristik syair dan sajak mereka, tapi malahan sekedar menghantar masyarakat penulis dan pembaca Public Blog Kompasiana untuk memotivasi dan mengilhamkan masyarakat kita untuk tetap perduli pada kehidupan meditatif-refleksif-heroik lewat sajak-sajak penuh makna yang pernah kita miliki di Nusantara. Continue reading ““Play-Boy” Chairil Anwar, WS Rendra, dan Linda Djalil”

Bahasa ยป